Kepuasanku – 1

Kumpulan Cerita Panas, nyepong kontol, cerita sex, jilbab bugil, memek artis, artis porno, artis bugil.

Memek Tante, Memek Tante Girang, Memek  gif_WMLelaki seperti aku ini bukanlah lelaki yang puas hanya dengan berhubungan dengan satu wanita. Postur badanku tinggi dan besar, maka sering kali aku melihat wanita-wanita melihatku ataupun hanya sekedar melirikku untuk memperhatikan besarnya tubuhku. Aku menikahi istriku beberapa tahun lalu setelah kami berpacaran 7 tahun lamanya. Semenjak kira pacaran berduapun aku sudah tahu kalau aku berpacaran tidak mau hanya “sekwilda” (sekitar wilayah dada) atau bercumbu bermesraan bagai
sepasang merpati memadu kasih.

Buatku kasih itu diukur dengan kegiatan seks yang telah kita lakukan. Istriku ini pertama kali tahu bentuk burung seorang laki-laki itu dari aku, karena aku yang memberitahunya, mulai dari cara memegang, mengulum sampai cairannya keluar. Kejadian pertama aku lakukan kepada istriku sekarang sewaktu kita masih berpacaran, yaitu pada saat aku masih kost dekat dengan kampusku.

Aku ajak dia bermesraan di dalam kamar, lalu kubuka pakaiannya atasnya, kuciumi buah dadanya yang saat itu masih mengkel dengan puting berwarna merah kecoklat-coklatan. Dia menggelinjang merasakan nikmatnya isapan di payudaranya. Kubiarkan dia mendesah dibarengi dengan erangan nafsu yang coba membakar dirinya. Masih terus aku mencium dan menjilati puting payudaranya, tangan kananku asyik membuka celana jeansnya. Dia benar-benar lupa diri saat itu, dia biarkan celananya lepas dari kakinya. Pelan-pelan kulepas lagi celana dalamnya dan kutarik sampai ke ujung kaki. Kulihat bulu-bulu yang tumbuh di sekitar vaginanya.

Kuusap-usap sesekali kegenggam gundukkan vaginanya terasa begitu tebal dan basah. Dia mendesah dan menggeliat tak karuan, dari dada aku langsung turun ke bawah untuk mencium aroma vaginanya. Dia terdiam sambil melihatku turun kebawah dan mencium vaginanya. Sesampainya aku di vaginanya, langusung kucium bulu-bulunya dan kutempelkan bibirku di bibir vaginanya. Dia mengerang dan meremas kepalaku dengan kencang, aku tahu kalau dia sudah nggak tahan diperlakukan seperti itu.
“Suu.. suddah dong, aku nggak tahan lagi” erangnya.

Aku dekati wajahku ke mukanya dan kulumat bibirnya, sambil berkata, “Kenapa? Kamu geli banget ya?
“Sudah ya, nanti kita keterusan.. bisa bahaya nanti” pintanya.
“Inikan baru pemanasan!” jawabku.
“Memangnya mau ngapain lagi, sudah ya.. jangan lagi!” tegasnya.
Aku diam tertunduk sambil menahan gejolak birahi yang sudah bangkit dan mau meledak ini.
“Kok diam, kenapa.. kamu jadi pusing ya?” tanyanya sambil tersenyum.
Aku mengangguk pelan, dan dia memegang mukaku dan menciumku dengan lembut.

Aku kembali memegangi payudaranya dan memilin putingnya. Dia kembali mendesah, dalam hati aku berharap permainan ini harus tuntas. Aku mencium payudaranya dan mengarahkan tangan kirinya ke arah burungku yang sudah mengencang. Pelan-pelan dia buka resleting celanaku dan mencoba meraih burungku yang ada di balik celanaku. Aku merasakan sepertinya dia kesusahan meraih burungku. Aku bangun dari tempat tidur, membuka kaos dan celanaku sampai telanjang bulat. Dia melihat terbelalak melihat burungku, aku duduk di sampinnya dia tidur.

Aku pegang tangannya dan mengarahkannya ke arah burungku. Burungku juga sudah basah dengan cairanku sendiri, begitu dia pegang burungku terasa tanganya menjadi licin karena cairanku sudah banyak keluar. Tangannya bergerak sesuai dengan nalurinya memaunkan burungku. Asyik dia bermain dengan burungku sedangkan aku asyik memandangi tubuhnya yang putih itu. Aku dekatkan kembali bibirku ke bibir vaginanya sambil menciumi bulu-bulu yang tumbuh di vaginanya. Sekarang posisi kita jadi 69 cuma bedanya aku tidak diatas badannya. Aku jilati semua daerah di sekitar vaginanya kadang aku buka bibir vaginanya dan memainkan itilnya. Dia mengejang dan merintih menahan kegelian yang kulakukan di vaginanya.

Aku bangun dari tempatku dan langsung menindihnya. Dia sudah nggak tahan lagi untuk segera melakukan hubungan badan denganku. Dia terus memegang burungku dan coba untuk mengarahkan ke lobang vaginanya. Kutahan tangannya yang coba memaksakan burungku masuk ke dalam.
“Lho kenapa? Kok kamu jadi berhenti?” katanya.
“Jangan dimasukkan deh, aku nggak mau beresiko” jawabku.
“Kamu maunya diapain?” jawabnya lagi.

Aku tempelkan burungku ke bibir vaginanya, ketekan dan kegesek-gesek. Dia mengerang geli dengan mata yang tertutup rapat. Aku tindih badannya dengan badanku dan terus menggerakkan pantatku maju mundur. Dia terus mengerang dan mendesah. Aku paling senang melihat wanita kalau lagi berhubungan badan, desahannya, erangannya, dekapannya sampai kenikmatan yang aku berikan, seperti lupa segala-galanya. Dia ikut bergerak tak menentu untuk menambah kenikmatan itu. Pelukannya kurasakan makin kencang dengan ditambah dekapan kakinya di pinggangku semakin mengeras.
“Ahh.. aku kkelluarr, ah.. ah.. ah” desahnya.

Aku ciumi dia dengan semangat agar dia bisa merasakan orgasmenya dengan nikmat. Akhirnya dia menegang dan badannya seperti kesetrum listrik bergetar menahan banyaknya cairan yang dikeluarkan. Aku peluk dia sambil tersenyum, dia sepertinya malu dan kemudian menyembunyikan wajahnya dalam dadaku. Aku angkat wajahnya dan kulihat wajahnya sayu menahan malu dan nikmat yang dia rasakan.
“Enak sayang, nggak usah malu, itu normal kok..!” kataku.
“Kamu juga udah keluar!” tanyanya lagi.
“Belum!” jawabku.

Aku duduk disampingnya yang ikut duduk untuk kembali mendekapku dari samping.
“Burungmu masih berdiri aja sih, emang nggak diam dulu?” katanya.
“Kalau belum keluar mana mau tidur dia?” kakakku.
Dia pegang burungku dengan dua tangannya. Dia pelintir burungku dan memegangi biji-bijiku, kurasakan nikmat tangan pacarku ini. Aku pegang kepalanya dan mengarahkannya ke arah burungku, dia mendekat dan menciuminya. Aku perhatikan dia memperlakukan burungku, cuma dicium bukannya dikulum.
“Masukkan dong ke dalam mulut” ajarku.
“Ah nggak ah, jorok kan..” jawabnya.
“Yah, kagak bakal keluar kalau cuma digituin sayang” jawabku.
“Dimasukkan begini?” kayanta sambil mengarahkan burungku kemulutnya.
“Iya, kayak kumu makan es krim!” kataku.

Kemudian pelan-pelan sedikit demi sedikit dia mulai memasukkan ke dalam mulutnya. Lama kelamaan dia mulai mengerti apa yang maksudnya dikulum. Dia belajar cepat untuk pemula sepertinya. Dia kocok dan dia masuk dan keluarkan kepala burungku dari mulutnya. Tak lama aku berdiri di depannya, sementara dia duduk di penggir kasur. Aku arahkan batang burungku kemulutnnya. Aku kocok burungku di dalam mulutnya. Sesekali kulihat dia menelan semua batang burungku dan hendak tapi ditahannya.
“Ah, aku udah mau keluar sayang” kataku.

Dia pegang batangku dengan dua tangannya dan membantu mengocok-ngocok batang kemaluanku. Begitu sudah mau keluar kucabut batangku dari mulutnya dan terus mendekap kepala pacarku itu ke arah burungku. Tangannya terus bergerak dam mengocok kepala burungku sambil menciumi batang burungku.
“Ah, ah.. achhs.. hhaahh..” suara yang keluar dari mulutku.
Dia cium seluruh burungku dengan tanpa henti mengocok burungku membuat aku semakin banyak mengeluarkan cairan dan membasahi pipi kananya. Badanku masih mengejang dikit-dikit akibat tangannya yang masih belum diam mengocok burungku.
“Sudah sayang, sudah.. gelikan?” kataku.
“Ihh, pipi aku jadi belepotan kamu bikin” katanya.
Aku rangkul dia dan memeluknya sambil tiduran dan dia memelukku erat.
“Enak juga yah.. tiduran berdua begini telanjang lagi..” candaku.
“Kamu emang demen begini?” jawabnya.
“Eh, siapa yang nggak suka tidur telanjang berdua begini?” jawabku.
Dia diam saja sambil terus mendekapku dan mengelus kepalaku.

Sekarang dia sudah jadi istriku, dan sebelum kami menikaHPun kami tidak pernah melakukan hubungan badan hanya esek-esek saja. Aku selalu bilang kepadanya dulu, kalau kita melakukannya dan menikah, malam pertama kita tidak lagi istimewa karena sebelumnya kita pernah melakukanya. Dan alhasil malam pertama, kita melakukannya pertama kali bersama dan itu nikmat yang kurasakan saat itu.

*****

Sekarang kami tinggal di rumah dengan type mungil ditambah satu orang pembantu dan sering kali keponakkan perempuan kita menginap disana. Pada hari tertentu Keponakan nginap karena dia harus masuk pagi ke kampus, supaya nggak telat katanya. Keponakan berkulit coklat dan manis, dan sudah kuliah semester lima. Tergolong pintar dibandingkan temen-temennya yang lain, IPK-nya 3,4. Sore itu aku pulang lebih awal dari kantor, kulihat keponakkanku duduk di teras depan dengan kedua teman perempuanya. Mereka seperti sibuk membuka buku-buku kuliah.
“Lho, kok pada duduk diluar! Belajar di dalam sana!” sapaku.
“Sore Oom..!” kata kedua temannya serentak.

Aku ikut duduk di lantai sambil membuka sepatuku dan coba melihat buku apa yang mereka baca.
“Mau ujian baru pada buku?” kataku.
“Iya nih, besok ujian akhir Oom..” kata temannya yang satu.
“Ujian apa?” tanyaku lagi.
“Akuntansi Biaya, Oom” jawab keponakkanku.
“Mau Oom ajari nggak, Oom kerjanya ngurusin akuntansi perusahaan” tawarku.
“Mau, mau Oom..” serempak mereka berteriak.
“Oom mandi dulu yah..” kataku sambil masuk ke dalam rumah.

Kulihat sekilas gadis-gadis muda belia itu, segar dan benar-benar membuatku mengenduskan nafas panjang. Selesai mandi sesuai dengan janjiku aku ajari mereka soal akuntansi, sampai jam 8.00 malam temannya yang satu pamit pulang sedangkan temannya yang satu nginap di rumahku.

*****

Malam itu aku masih menonton film tengah malam, kudengar pintu kamar keponakkan terbuka dan kulihat keponakkan bangun dari tidurnya.
“Belum tidur Oom!” katanya sambil menggosokkan matanya.
“Belum! Mau ngapain bangun malam begini” tanyaku.
“Haus Oom, Pinta mau minum” jawabnya sambil duduk disampingku.
“Ya, udah Oom ambil dulu!” kataku.

Kulihat dia memakai baju longdress pendek tipis dan tanpa menggunakan BH, pentilnya menonjol keluar memberkas di baju tidurnya. Selesai ambil minum kedekati dia dan menyodorkan minuman.
“Temanmu sudah tidur?” tanyaku.
Pinta hanya mengangguk sambil terus meminum air putihnya sampai habis.
“Ahh, enak, segeer. Oom nonton apa!” tanyanya.
“Ah, film barat! Apa ya judulnya?” jawabku.

Kulihat dia mau ikutan nonton dan terus merebahkan kepalanya dibahuku.
Kurangkul dia dengan lembut sambil berkata, “Sudah tidur sana!”.
Sambil merangkulnya kulihat payudaranya dari balik baju tidurnya. Begitu mengkal dan mantap, badanku bergetar pelan melihat pemandangan itu. Kurangkul dia erat dengan kedua tanganku, tangan kananku menyentuh dua bukit yang tertutup baju tidur. Aku elus tangannya dia pelan-pelan, aku benar-benar pengen menciumnya. Lupa diriku membuat aku nggak sadar akhirnya untuk segera menciumnya. Kudekap mukanya dan kucium dia bibir mungilnya dengan pelan-pelan. Matanya terbuka dan kemudian dia mendorongku pelan.

“Oom, jangan Oom!” tegasnya.
“Oom cuma mau cium kamu aja kok” kataku.
“Tante di kamar lho Oom, udah ah Pinta mau tidur!” ujarnya.
Aku pegang tangannya lembut dan coba untuk membiarkannya pergi tidur.
“Oom kenapa? Emangnya Oom lagi mau!” tanyanya lagi.
“Ah nggak kok, tadi Oom cuma mau cium kamu aja” jawabku.
Pinta kembali duduk mendekatkan diri kepadaku. Dia cium pipi kiriku, dan menarik mukaku berhadapan dengan mukanya serta mencium bibirku.

Aku terhentak kaget, “Eh, sekarang kamu yang aneh..!” kataku.
“Sini Oom, Pinta pegangin aja ya..!” kata keponakkanku.
“Kamu serius, Pinta!” jawabku.
“Oom mau nggak, n’tar Pinta tidur nih” ancamnya.
“Emangnya kamu pernah..” kataku terpotong.
“Udah deh, nanti Tante bangun.. Oom nggak jadi!” jawabnya cepat.

Dia masukkan tangannya ke dalam celanaku, memegang dan coba membangunkan burungku yang sedang tidur. Aku turunkan celanaku agar dia bisa leluasa bekerja, dan membuka baju atasnya agar bisa kulihat payudaranya. Payudaranya begitu bagus terlihat oleh mataku, kuremas dan kupilin petilnya. Pinta mendesah kegelian dan membuat kocokannya semakin cepat.
Dia lepas tanganku dan berkata “Oom aja deh..”.
Dia tertelungkup dan menghisap batanganku, nikmat kurasakan kuluman keponakanku ini. Dalam hati berpikir kalau dia pernah melakukan hal ini sebelumnya.

“Kamu pernah begini, Pinta!” tanyaku.
“Cuma pacar Pinta sering minta Pinta giniin” ujarnya.
Dalam hatiku berpikir, “Sama kayak aku pacaran dulu dong?!”.
Dia terus mengulum burungku dengan kocokan tangan kanannya yang sudah mengetahui seluk beluk burung laki-laki. Makin cepat kocokannya membuat diriku mengerang pelan dan meremas pantatnya yang keremas-remas.
“Oom.. nggak kuat Pinta, Oom mau keluarr..!” erangku.
Pinta bangun dari tempatnya dan pindah jongkok menghadap burungku. Dia kocok burungku dengan mengarah ke mulutnya yang terbuka. Aku benar-benar merasakan nikmat luar biasa dengan sensasi yang dia lakukan.
“Ahh.. sshh, Piinntaa..” erangku.

Dan.. croot.. croot, keluarlah spermaku dan masuk kedalam mulutnya. Dia terus mengock membuat cairanku keluar banyak sekali (ada kali 6-7 kali). Mulut dan mukanya penuh dengan spermaku, selesai spermaku keluar dia kulum lagi batangku dengan lembut. Wah, hebat banget keponakanku ini, pintar luar dalam. Puas dia kulum burungku, aku cium bibirnya dengan mesra.
“Terima kasih sayang.. Kamu benar nggak mau juga!” ucapku.
Dia bangkit berdiri dan sambil tersenyum mesra dia berkata “Besok-besok aja Oom..”.
Pinta langsung ke kamar mandi dan masuk kamar. TV ku matikan dan masuk kamar, istriku tertidur pulas banget. Aku dekap dia dari belakang dan ikut tidur puas.

Ke bagian 2

This entry was posted in Cerita Sex Setengah Baya, Indo Nude and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.