Kamu Laki-laki Bukan, Sih? – 3

CerSexMek – Kamu Laki-laki Bukan, Sih? Part 3

memek Jasa Bikin Blog bugil_WM
CerSexMek = Cerita Sex Memek

Dari Bagian 2

“Rara, kamu tidak boleh menolak, nikmati saja apa yang akan kuberikan padamu” ujarku. Kucium bibirnya, turun ke putingnya kiri kanan, kujulurkan lidahku berputar putar di putingnya lalu kuhisap putingnya bergantian sambil jari telunjukku berputar-putar di klitorisnya.
“Ohh.. Uuhh.. Ennaak banger Vir.. Terus lebih kencang” teriaknya. Lidahku kuturunkan ke perutnya, kujilat pusarnya sampai sekeliling pinggangnya, lalu kususuri bulu bulu tipisnya dan akhirnya lidahku menemukan klitorisnya. Tiba tiba, Rara menahan kepalaku.
“Jangan Vir, aku belum pernah dioral sebelumnya” rintihnya.

CerSexMek

Tak kupedulikan rintihannya, lidahku terus berputar putar dan menghisap klitorisnya. Rara kelojotan keenakan, kepalanya dilempar ke kiri dan kanan, tangannya meremas kepalaku dengan keras, tak lama terasa pantatnya mengejang dan Rara berteriak sejadi-jadinya..

“Vir.. Aku keeluuarr.. Ooh..”

Sekitar beberapa detik badannya mengejang, terasa vaginanya semakin basah dan ada lendir yang keluar. Aku jilat dan hisap semuanya. Aku teruskan pengembaraan lidahku di vaginanya, kali ini aku permainkan bibir vaginanya dengan bibirku, kujelajahi seputar bibir vaginanya menggunakan lidahku, lalu kumasukkan sedalam-dalamnya ke vaginanya. Kuputar lidahku di dalam vagina Rara yang halus.

“Terrus Viir, aku bisa kelluaar lagi, ooh.. Auuchh..” beberapa saat teraaa kembali cairan nikmat memenuhi liang vaginanya, pertanda orgasme yang kedua buat Rara. Akhirnya ditariknya kepalaku.
“Sudah Vir, aku nyerah, aku nyerah, gila kamu ya, ooh sungguh nikmat aku hari ini..” Rara berceloteh lemas.

Melihat dia lemas, aku menjadi tidak tega untuk melanjutkan permainan. Aku beristirahat sebentar sambil meremas-remas buah dadanya. Tak berapa lama, mungkin Rara tersadar bahwa aku belum apa-apa hingga ia menarik tubuhku ke atas tubuhnya. Kunaiki tubuhnya dengan bertumpu pada tangan dan lututku, kuarahkan penisku ke vaginanya. Rara membuka kakinya lebar lebar.

“Perlahan Vir..” pintanya.

Penisku menyentuh bibir vaginanya. Kudorong sedikit, terasa sempit dan kecil sekali vaginanya, sulit buat penisku untuk masuk. Aku menunduk lalu membasahi vaginanya dengan ludahku. Kuulangi mendorong penisku, masih tetap sulit untuk masuk, tapi lebih mendingan dibanding yang pertama tadi. Saat sudah masuk sekitar setengah kepala penisku, kugoyang pantatku ke kanan dan kiri dengan perlahan dan halus sambil terus berciuman dengan penuh nafsu dan gairah hingga akhirnya setengah dari penisku berhasil masuk. Rara mendelikkan matanya dan berteriak..

“Sakiit Vir”.

Aku berhenti sebentar agar memberi kesempatan Rara beradaptasi. Saat terasa Rara mulai menggoyangkan pinggulnya pertanda mulai dapat merasakan nikmatnya, lalu kembali kudorong penisku agar masuk semuanya, cukup sulit walaupun akhirnya dengan perjuangan antara nikmat dan sakit, penisku berhasil masuk semua. Kembali Rara terengah-engah sambil mendelikkan matanya. Aku tahu, dia masih merasa sakit. Kudiamkan sejenak agar Rara merasakan sakitnya hilang berganti kenikmatan. Saat Rara mulai menggoyangkan pinggulnya, kukedutkan penisku dengan permainan otot keggel. Rara kembali berteriak dengan kerasnya..

“Vir.. Ampun.. Enaakk amaat..”

Lalu mulai kukocok penisku perlahan, terasa cairan vagina Rara mulai membasahi sehingga kocokanku semakin lancar, sambil kukocok kadang-kadang pada saat masuk semua, aku tahan sejenak dan kumainkan otot keggelku kembali hingga tak lama Rara pun orgasme yang ketiga malam itu.

Penisku masih keras tertancap di vaginanya. Kurapatkan dan kuluruskan kakinya sambil terus kumajumundurkan pantatku. Pada posisi ini, vagina Rara menerima tusukan penisku bersamaan dengan klitorisnya menerima gesekan batang penisku, Rara pun berusaha untuk menggoyang pantatnya mencari kenikmatannya hingga tidak sampai 5 menit kemudian, kembali Rara berteriak..

“Vir.. Aku mau keluar lagi, terus Vir gesek, tekan tekan yang dalam.. Oohh.. Yeeah.. Aku keluuaarr lagi Vir..” Rara berteriak sambil menggelengkan kepalanya. Akhirnya Rara ambruk lemas.
“Apa yang harus aku perbuat Vir, aku menyerah kalah hari ini, tapi aku nggak kapok, aku pingin lagi..”

Tiba tiba Rara mendorong aku sehingga kami berguling tanpa melepas penisku dari vaginanya. Rara duduk di atas penisku yang tertancap dalam di vaginanya. Rara mulai memutar pinggulnya, perlahan-lahan semakin lama semakin cepat sampai seperti penari hula hop dengan kecepatan tinggi, penisku terasa diremas remas olah vagina Rara dan..

“Ra.. Terasa mau keluar nih..” ujarku.

Rara semakin mempercepat putarannya dan akhirnya terasa spermaku meledak di dalam vaginanya, bersamaan dengan itu Rara pun berteriak keras-keras, orgasme yang ke 5. Rara ambruk di dadaku lemas dan nikmat. Terasa penisku mulai mengecil lalu Rara berguling telentang di sampingku sambil tangannya mengenggam penisku. Aku bangkit, mengarahkan mulutku ke vagina Rara. Terlihat campuran dua cairan cinta meleleh di vagina Rara, aku jilat dan hisap sebisanya dari vagina Rara, kukumpulkan di mulutku.

“Vir, apa lagi yang mau kamu lakukan padaku, aku bisa mati keenakan nih hari ini..” Rara mengerang sambil menggoyangkan pantatnya keenakan. Kulihat Rara memejamkan matanya sedang menikmati lemasnya badan dan tulang-tulangnya. Kudekati wajahnya dan tiba tiba kucium bibirnya. Rupanya Rara dapat merasakan bahwa mulutku masih belepotan.
“Vir, jorok iih, itu kan spermamu dan cairan vaginaku..”

Tak kupedulikan protesnya, kutahan kepalanya, kucium bibirnya dan lidahku menyeruak membuka mulutnya hingga Rara menyerah dan membuka mulutnya. Kutumpahkan sebagian cairan yang ada di mulutku ke mulut Rara. Mula-mula dia menolak, tetapi lama-kelamaan dia menjulurkan lidahnya dan kamipun berciuman dengan hot.

“Ra, tidak ada sedikit pun yang kotor dan jorok dari tubuh pasangan sex kamu. Kamu harus memegang prinsip itu apabila kamu ingin menikmati hubungan sex yang sesungguhnya. Segala apa yang ada di tubuh pasangan kamu adalah bersih dan harum dan untuk kamu nikmati juga untuk kenikmatannya. Dengan cara itu, kamu akan lebih bergairah dalam berhubungan sex”, kataku.

Kami tertidur telanjang. Sewaktu bangun aku terkejut, jam 1 siang, berarti aku ketinggalan pesawat kembali ke Jakarta. Akhirnya aku telepon pihak Garuda dan mengubah jadwal pesawatku kembali ke Jakarta untuk hari Rabu. Berarti masih ada 3 malam aku akan bersama Rara. Ternyata Rara mendengar pembicaraanku di telepon dengan petugas Garuda.

“Vir, terima kasih ya telah kamu tunda kepulangan kamu, berarti aku masih bisa mereguk kenikmatan lebih banyak dari kamu dan juga aku ingin menikmati hubungan sex yang sesungguhnya” ujarnya gembira.

Selama 3 hari 3 malam, kami jarang keluar kamar, paling paling untuk makan malam saja. Selama 3 hari itu juga kami mereguk kenikmatan sex yang sesungguhnya. Rara sudah berani mengoralku, bahkan di hari terakhir aku orgasme di mulutnya dan ditelannya sebagian spermaku.

“Vir, kapan datang lagi?” tanyanya memelas.
“Mungkin 2 minggu lagi” jawabku.
“Kalau mau kesini, masih mau aku temani nggak?” tanyanya.
“Kalau kamu masih mau, mana mungkin aku nggak mau, tapi kalau ada cowok kamu gimana?” balasku.
“Aku janji, kalau kamu datang, biarpun ada cowokku di sini, aku akan berusaha menemani kamu” jawabnya.
“OK dah, toh tiap kali datang aku pasti ke tempat Arif di S, mungkin kita bisa ketemu di sana” kataku. Pada saat itu belum ada HP.

Pada hari Rabu aku kembali ke Jakarta, dan memang setiap 2 minggu sekali aku usahakan pergi ke Bali dengan alasan untuk mengontrol proyek. Selama itu pula tiada semalam pun aku lewatkan di Bali tanpa Rara. Namun proyek itu selesai 6 bulan kemudian hingga aku kehilangan Rara.

Setahun kemudian, pernah sekali aku bertemu Rara di Jakarta Ratu Plaza. Kami pun bernostalgia dan aku ajak Rara ke hotel. Di dalam kamar kami menumpahkan kerinduan kami dengan bercinta sepuas-puasnya dan sangat terasa Rara sudah sangat piawai dalam bercinta, namun Rara tetap menyisakan misteri. Aku tidak tahu dimana dia tinggal di Jakarta.

Misteri mulai terkuak karena beberapa tahun kemudian, wajah Rara mulai banyak menghiasi majalah majalah serta berbagai berbagai pagelaran mode selalu menampilkan Rara sebagai peragawatinya. Tampak dia semakin dewasa dalam penampilannya, namun aku tidak pernah berusaha untuk menjumpainya demi menjaga privacy dia.

Akhirnya sekitar tahun 93, kulihat berita bahwa Rara akan menikah dengan seorang pengusaha muda Jakarta yang bisnis utamanya di bidang pariwisata Bali. Saat itu kudoakan agar perkawinan Rara langgeng. Tahun 95, saat aku ke Bali lagi, aku sempat bertemu Rara dengan suaminya. Dan di penghujung tahun 2000, kubaca lagi Rara di kematangan usianya sebagai wanita dewasa yaitu kini menjabat sebagai direktur utama perusahaan suaminya di Bali dan mendirikan sebuah perusahaan EO. Aku bersyukur, dan sampai dengan saat ini perkawinan mereka masih langgeng dan aku yakin bahwa Rara tidak menyia-nyiakan pengalamannya bersamaku dalam membina hubungan sex dengan suaminya.

Untuk Rara, bila kamu kebetulan juga membaca cerita ini, buatlah ini menjadi kenangan kita bersama. Buat mereka yang pernah terlibat dalam pertemuan kami, mungkin masih akan teringat bila membaca cerita ini, tapi tidak untuk mereka yang lain karena nama-nama di cerita ini telah berubah walaupun masih dengan initial yang sama. Mungkin suatu saat secara kebetulan kita masih berkesempatan untuk bertemu lagi, entah kapan.

E N D

This entry was posted in Cerita Sex Umum, Indo Nude and tagged , , , . Bookmark the permalink.