Lennie’s First Date – 6

Cerita Ngewe

Cewe Cantik Bugil,  memek korea_WMDari bagian 5

Tak lama kemudian Lennie berteriak keras, “Ohh, Rick!!” tubuhnya mengejang, tangannya meraih bantal kemudian digigitnya keras-keras sambil menangis dan merintih kenikmatan. Kali ini Lennie benar-benar menikmati pengalaman orgasme yang teramat dasyat, yang membuat sekujur tubuhnya seperti mau mededak. Akulah satu-satunya orang yang membuatnya seperti itu, aku benar-benar bersyukur untuk ini semua.

Perlahan-lahan tubuh Lennie relax kembali dan tubuhnya terkulai lemas seolah tidak bertulang lagi, dan napasnya masih menderu-deru. Akupun tidur sambil memperhatikan dahsyatnya reaksi orgasme yang baru dialami adikku ini. Matanya tertutup rapat, wajahnya merah padam dan mulutnya terbuka. Sepasang bukit didadanya naik turun mengikuti nafasnya yang berpacu cepat. Benar-benar pemandangan yang sangat mempesona sekali.

Sesaat kemudian Lennie membuka matanya.

“Ohh, Rick,” bisiknya, “Benar-benar luar biasa. Aku hampir tidak percaya bisa mengalami orgasme yang begitu dasyat. Aku benar-benar meledak. Benar-benar sulit dipercaya, begitu nakal menjijikkan tapi begitu nikmat sekali. Aku sangat menyukai bagian yang nakal tadi. Aku sangat menyukai kau melakukannya.”

Dipeluknya tubuhku dengan mesra sekali sambil berbisik, “Oh, Rick, aku benar-benar bahagia dengan kencan kita ini.” Diciuminya wajahku dengan wajah berbinar-binar.

Kami berbaring saling berhadapan, saling pandang tanpa berkata apa-apa, mata kami saling menjelajahi ketelanjangan tubuh kami, kami sangat senang dengan ketelanjangan kami dan juga sensasi gairah sexual yang kami lakukan. Lennie akhirnya memecahkan kebisuan itu.

“Kau masih ingat ketika aku cerita tentang Lauren yang mengatakan kepadaku tentang menghisap penis?”

Aku mengangguk, dan Lennie melanjutkan lagi, “Kamu paham, kau tidak boleh cerita kepada siapapun tentang hal itu! Lauren mengatakan itu adalah rahasia sangat besar, dan aku harus bisa menjaga kepercayaannya kepadaku. Maukan kamu berjanji tidak akan cerita kepada siapapun?”
“Jangan khawatir, bibirku akan selalu terkunci rapat,” kataku meyakinkan Lennie.

Lennie juga mengatakan bahwa Lauren tertarik kepada dirinya. Aku juga tidak ingin merusak reputasi dan masa depan gadis secantik Lauren, meskipun terjadi suatu perubahan besar dimasa datang, aku akan tetap menjaga kerahasiaan ini.

“Bagus,” kata Lennie, “Sekarang aku tidak khawatir tentang itu.”
Lennie melanjutkan lagi, “Aku tidak akan pernah lupa ketika Lauren menceritakan kepadaku tentang rahasia besarnya itu. Lauren dan aku mempunyai banyak kesamaan dan menjadi teman sangat akrab sehingga aku mendengar banyak rahasia tentang dia. Suatu hari ketika sedang makan siang kami berbincang-bincang tentang seorang gadis di kelas kami yang dengan bangga menceritakan bahwa dia telah menaklukan seluruh anggota team baseball. Si gadis mengklaim bahwa dia telah membuat lima anggota team orgasme dengan cara menghisap penis mereka, dan menelan semua spermanya. Aku sangat tercengang-cengang dan tidak percaya dengan cerita itu, tapi Lauren tersenyum dan mengatakan bahwa menghisap penis pria adalah sesuatu yang menyenangkan, dan itu memang bisa terjadi. Kemudian Lauren menceritakan pengalamannya menghisap penis seorang pemuda yang ternyata menyenangkan juga. Sepanjang sore itu Lauren telah menghisap dan menelan semua sperma pria itu sebanyak tiga kali. ”

“Lauren Wilton yang kau maksudkan? Lauren yang pemalu dan pendiam itu?”
“Tahukan, kenapa aku katakan bahwa Lauren bukan seorang gadis pemalu. Dia menceritakan bahwa pada saat yang sama pemuda itu juga menghisap dan menciumi vaginanya, sehingga Lauren sampai orgasme empat kali. Lauren menceritakan betapa nikmatnya ketika pemuda itu menghisap dan menciumi vaginanya, yang membuatnya mencapai puncak orgasme yang luar biasa sekali. Kamu bisa bayangkan bahwa cerita itu membuatnya sangat terangsang sehingga hampir membuatku orgasme saat itu. Celanaku sudah basah kuyup. Aku segera menggantinya diruang ganti wanita dan melakukan masturbasi sebelum mengikuti pelajaran berikutnya.”

Aku benar-benar sulit mempercayai cerita Lennie ini, tapi tidak ada suatu alasan buatnya untuk membuat cerita bohong kepadaku. Aku juga tahu kedekatan Lennie dan Lauren. Mereka berdua dari luar sepertinya sangat pendiam, gadis kecil yang lugu, tapi gejolak gairah sexualnya yang sangat panas tertutup rapat oleh penampilannya yang dingin. Lennie telah membuktikan kepadaku selama kencan kami ini. Mungkin selanjutnya pada Lauren juga. Wah, aku benar-benar seorang pemuda yang sangat beruntung, saat ini, adik kecilku yang begitu hot terbaring dengan telanjang bulat dalam pelukanku dan keadaan yang serupa kemungkinan bisa pada temannya yang sexy itu.

“Lauren telah berhasil menyimpan rahasia itu dengan baik. Biasanya ketika seorang gadis mendapatkan pengalaman yang sangat baik, mereka sulit untuk tidak menceritakan ke orang lain, ” kataku.
“Itu tidak tepat juga. Itulah pentingnya agar kita tidak menceritakannya kepada orang lain. Termasuk apa yang kita lakukan berdua. Kita yakin tidak akan cerita bukan?” bisik Lennie.
“Wah, pasti tidak!” kataku, “Mama dan Papa bisa membunuh kita kalau mereka tahu, dan teman-teman kita juga bisa mentertawakan dan mencemooh kita.”
Lennie tersenyum manis dan berkata, “Tapi bukan berarti kita mengakhirinya bukan?”
“Tidak!” kataku sambil tersenyum juga, “Itu berarti kita harus semakin hati-hati, sehingga orang tua kita tidak curiga. Disamping itu, aku tidak yakin lagi melakukan masturbasi sendiri setelah tahu kau bisa memberikan yang jauh lebih baik.”

“Aku juga, ” bisik Lennie, “Aku sangat menyukai caramu membuat aku orgasme.” Kata Lennie sambil mencium bibirku dengan sangat mesra sekali.

Beberapa detik kemudian kami sudah tenggelam dalam ciuman yang hot dan menggairahkan sekali. Aku benar-benar terkejut, hanya dengan cerita masturbasi kita, Lennie spontan meledak gairahnya. Aku memang sudah bergairah sejak tadi karena melihat kemulusan dan kemolekan tubuhnya, tapi Lennie dalam waktu beberapa detik sudah langsung sampai ketingkat yang sama dengan gairahku. Lennie kembali melepaskan ciumannya sambil bertanya,

“Kamu tidak menanyakan siapa pemuda pasangan Lauren. Kamu tidak ingin tahu?”
“Yeah, tapi kupikir itu adalah bagian paling rahasia yang tidak ingin kau ceritakan kepadaku.”
“Well, bagian itu memang paling rahasia dari semuanya. Kamu tahu, aku dan Lauren mempunyai banyak kesamaan. Dan salah satu alasan kita bahwa pemuda itu adalah..” Lennie tersenyum kemudian meneruskan kata-katanya,
“Pemuda itu adalah kakaknya Alec.”
“Wah!!” bisikku kaget, “Lauren dan Alec? Mereka melakukan seperti yang kita lakukan?”
Lennie menatap tajam mataku dan berbisik, “Tidak sama persis.”
“Apa maksudmu tidak sama persis?”
“Maksudku, ” Lennie berbisik, “Mereka melakukan lebih dari pada kita!”
“Lebih?? Maksudmu mereka..?”
“Ya, mereka telah melakukan semuanya.”
“Alec dan Lauren.. ML?”
Dengan tidak melepaskan pandangan matanya, Lennie berbisik lebih pelan, “Ya, dan Lauren sangat menyukainya.”

Aku langsung membayangkan Alec dan Lauren sedang berbaring diatas ranjang, Alec menindih tubuh Lauren seperti laki-laki yang ada di film itu. Bayanganku bahkan lebih dari pada adegan film, kubayangkan penis Alec dimasukkan ke liang vagina Lauren, liang itu terisi begitu penuh, tidak ada lagi ruang di antaranya, bergerak naik-turun.. Batang penisku lasung berdiri tegang sekali ketika membayangkan kakak dan adiknya melakukan ML, benar-benar ML.

Lennie menaikkan kakinya ke atas pahaku dan pelahan tubuhnya merayap menindih tubuhku, tubuh dan pinggulnya bergerak-gerak pelahan, kulit tubuh kami saling bergesekan dengan lembut. Pangkal pahanya bergesekan ketat dengan batang penisku, kurasakan kebasahan dan kehangatan disana. Tangan Lennie meraih kebawah, batang penisku digenggamnya dan dipandunya menuju liang vaginanya. Ketika ujung penisku sudah tepat di gerbang liang vaginanya, Lennie menekan pinggulnya kebawah, batang penisku yang sudah sangat tegang siap menembus liang sempit itu.

Hatiku berdebar keras, aku tidak berani bergerak, takut batangku menembus masuk ke liang vagina Lennie, adikku sendiri. Aku cuma menunggu yang dilakukan Lennie selanjutnya.

“Ooohh, Lennie,” desahku pelan sambil menahan sensasi dan gairah yang berkecamuk di dalam dadaku.
“Bolehkah kita melakukan semuanya juga? Seperti laki-laki dan permpuan di film? Seperti juga yang dilakukan Lauren dan Alec?”
“Kamu benar-benar menginginkannya? Wah, Lennie, kamu benar-benar menginginkan aku melakukannya padamu?”
“Ya! Oh, Wah, ya! Itu sebabnya aku mengambil beberapa kondom di pompa bensin ketika kita berhenti disana. Itu sebabnya aku minta berhenti sebentar disana, sehingga aku bisa mengambilnya.”

Aku tidak tahan untuk tertawa. “Kamu mengambil beberapa kondom? Aku juga!”
Mata Lennie melotot, “Kamu mengambilnya untuk digunakan kepadaku?”
“Aku mengambilnya hanya untuk jaga-jaga bila kamu menginginkannya berlangsung lebih jauh. Aku tidak akan berani melangkah lebih jauh dari yang kau kehendaki.”

Lennie menggerakkan pinggulnya pelan-pelan sambil menekan-nekan kebawah. Ujung penisku mengintip-intip ke dalam liang vaginanya. Tubuh kami berdua bergetar dan berdebar-debar.

Tiba-tiba Lennie memberikan ciuman kilat sambil berkata, “Aku menginginkan kita meneruskan sejauh yang kita bisa lakukan. Aku menginginkan kita melakukan APA SAJA. Aku tidak yakin kita bisa memperoleh kesempatan yang lebih baik dari pada malam minggu ini. Oh, cepat ambil kondom dan kita gunakan sekarang.”

Lennie menekan lagi pinggulnya kuat-kuat sehingga ujung kemaluanku sepertinya hampir melesak ke dalam liang vaginanya, tapi kemudian diangkatnya lagi sambi berkata, “Penis ini sepertiga sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam, cepat ingin merasakannya sekarang.”

Aku segera berguling kepinggir ranjang, meraih celanaku celanaku dan mengambil sebuah kondom. Segera kubuka bungkusnya dan memasangnya di batang penisku. Kondom itu jenis berpelumas, tipis dan terasa sensual membungkus penisku. Perasaanku semakin berdebar-debar, akhirnya aku akan segera merasakan penisku masuk ke liang kecil, sempit dan hangat itu, dan aku akan ML untuk pertama kalinya.

Yang kuperlukan sekarang adalah bagaiman caranya agar proses itu dilakukan dengan sebaik-baiknya. Lennie sudah tidak sabar lagi menungguku. Kita berdua akan melepaskan keperawanan dan keperjakaan secara bersama-sama dan menikmatinya bersama.

Begitu selesai persiapanku, aku posisikan tubuhku diantara paha Lennie yang sudah terbuka lebar. Lennie berbaring terlentang dengan menekuk kedua lututnya dan kedua telapak kakinya bertumpu kuat di ranjang. Celah vaginanya yang berwarna pink mengkilat basah dan terbuka lebar, clitoris dan liang vaginanya terpampang jelas. Kubimbing ujung penisku dan kutempelkan tepat di gerbang liang vagina itu, dan pelahan lahan kutekan masuk..

Setelah ditekan agak keras, ujung kemaluanku mulai melesak masuk ke liang sempit itu. Kutarik sedikit dan kembali kutekan, begitu seterusnya sampai ketika ujung penisku yang berbentuk topi baja itu sudah melesak masuk, kutemukan adanya dinding penghalang disana. Akupun segera menyadari bahwa itu adalah selaput daranya. Aku segera memberi peringatan kepada Lennie tentang selaput daranya itu.

“Lennie aku akan segera menembus selaput daramu. Ini mungkin akan terasa sakit, jadi aku akan kuusahakan dengan pelan-pelan.”

Lennie tersenyum dan berkata, “OK. Lauren mengatakan agak sakit ketika pecah, tapi sakitnya segera hilang beberapa saat kemudian. Aku akan menekan ketika kau melakukannya jadi kita melakukannya bersama agar segera selesai.”

Kutekan pinggulku pelan-pelan, demikian juga Lennie mengangkat pinggulnya ke atas, tapi tiba-tiba Lennie menyentakan pinggulnya ke atas sehingga penisku langsung amblas ke dalam liang vagina itu.

“Oh, Len, sorry, aku tidak sengaja melakukan begitu keras.”
Kulihat wajah Lennie merah padam menahan sakit, tapi tetap bersusaha tersenyum, “Bukan salahmu, aku yang menginginkannya, jadi aku memang sengaja menekan kuat-kuat.”

Memang Lennie yang menekan pinggulnya kuat-kuat ke arahku sehingga pangkal batang penisku kini menempel ketat di bibir vaginanya.

“Ternyata tidak terlalu sakit, dan sekarang sakitnya mulai berkurang. Rick, aku merasakan batang penismu memenuhi seluruh rongga liang vaginaku.. Aku sangat menyukainya Rick, aku sudah lama menunggunya,” matanya masih lekat menatapku, Lennie berbisik, “Aku sekarang sudah tidak perawan lagi.”
“Well, ya betul, tapi secara teknis aku masih perjaka sampai aku orgasme.”

Kurasakan otot-otot vagina Lennie menjepit kuat batang penisku. Lennie berbisik lagi, “Kupikir aku bisa menyelesaikannya sebentar lagi, betulkan?”

Ke bagian 7

This entry was posted in Cerita Sex Sedarah, Indo Nude and tagged , , , . Bookmark the permalink.