Kekuatan Cinta 02

Cerita Sex : Kekuatan Cinta Part 2 – Cerita Sex Update, Cerita Sex Daily, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Cerita Panas, Cerita Bersambung, Cerita Seks Terbaru.

memek Add URL bugil_WM
( Cerita Sex + Bergambar + Bersambung Paling Update )

Sambungan dari bagian 01

Saling berkirim foto merupakan cerita tersendiri yang kupikir agak lucu. Aku men-scan foto yang kuambil dari rumah sedapatnya (jangan sampai isteriku tanya ada angin apa nih nyari-nyari foto) dan kukirim lewat mail. Florence juga telah kirim pic-nya lewat yahoo emailnya tapi Florence belum juga membuka file jpeg fotoku, belum siap katanya (ini membuatku agak kurang pede juga, jangan-jangan Florence jadi berubah ketika melihat wajahku yang “biasa-biasa” saja). Lalu dia bilang, kalau dia akan membuka pic-ku pada saat yang bersamaan di hari jumat karena disaat itulah kita berkenalan pertama kali dan Florence ingin mencoba membuat hari itu tidak terlupakan. Jadilah, Jumat pukul 13.00 WIB kami tahu wajah masing-masing.

CerSexMekCerita Sex Memek hanya ada di >>> ceritasexmemek.com

Ingin tahu kesanku setelah membuka e-mail berisi 1 lembar foto Florence? Tak kusangka, Florence itu muda dan cantik! Muda layaknya gadis baru lulus SMA, yang berarti lebih muda beberapa tahun dari umurnya sekarang, dan cantik mirip artis GS. Matanya tidak sipit seperti layaknya Chinese meskipun kesan mandarin-nya ada. Eh, pembaca pria yang barangkali tertarik pada Florence, mendingan nggak usah coba-coba deh. Bukan apa-apa, Florence ini kalau sudah jatuh cinta adalah tipe setia. Selama 3 bulan aku mengenalnya, sudah ada 2 cowok di sekitar pergaulannya yang coba mendekati dan semuanya ditolak. Dan keduanya ‘jatuh’ pada pandangan pertama. Kenapa Florence menolak? Demikian kira-kira pertanyaan Anda bukan? Good question. Sayangnya, aku belum tahu jawabannya apalagi jika anda membaca ceritanya disaat dia menikmati percintaannya dengan anjing dan disaat diisengin sama orang asing di bis kota.

Ok, lanjut ke kisah cintaku, Apa reaksinya setelah tahu tampangku? Dag-dig-dug juga aku menunggu mail di hari berikutnya. Florence tak berubah, ini membuatku makin sayang kepadanya. Well, Erwin, teman baikku bahkan tidak percaya bahwa Florence begitu cantik bahkan dia sempat menggodaku bahwa dia sempat naksir sewaktu aku menunjukkan pic-nya kepada si Erwin tetapi setelah dia selesai menggodaku, dia kembali menasehatiku bahwa itu bisa saja cowok yang berpura-pura menjadi cewek, tetapi aku tetap tidak percaya dengan pernyataannya.

Bukan Florence kalau tak membuat kejutan dalam mailnya. “Suatu saat gue pengin tidur sama Mas” tulisnya. Mabuk dah gua jadinya. Sudah tentu, aku mulai cari-cari peluang untuk bisa terbang belasan jam menemuinya. Segala kemungkinan kujajaki. Semua cara mengandung resiko. Resiko memang harus kuambil kalau ingin berhasil mencapai sesuatu. Aku nekat. Bahkan percaya atau tidak, si Erwin sempat bilang kalau aku termasuk cowok terbodoh yang pernah dia temui karena aku rela terbang jauh hanya untuk menemui seseorang yang tidak jelas jati dirinya dengan alasan yang sudah kuuraikan diatas.

Akhirnya Bule itu menyerahkan passporku sambil senyum ‘standar “Welcome to America,” katanya.
“Thank you,” balasku datar.
Lepas dari imigrasi aku lewati saja gerbang Customs tanpa hambatan, karena memang aku hanya membawa satu koper kecil persediaan pakaian buat seminggu. Lega. Tak lega benar sebenarnya, deburan jantungku makin menguat ketika mendekati pintu keluar. Beberapa menit lagi aku menjumpai kekasihku yang selama ini hanya ada dalam bayangan. Tiba-tiba terlintas dalam kepalaku, bagaimana kalau Florence tak menjemput? bagaimana jika selama ini aku ditipu dan pernyataan si Erwin menjadi kenyataan? Apa yang harus kulakukan di Roma apalagi aku tidak mempunyai kenalan sama sekali di negeri barat ini? Ini sama sekali tak pernah kubayangkan. Pokoknya ke luar dulu, urusan lain dipikir nanti saja lagipula aku bawa uang yang lumayan banyak ini.

Ha! Aku bersorak, dengan senyum lebar Florence bangkit dari duduknya menyambutku.
“Hallo Flo..”
Kami berpelukan erat, deburan dadaku bukannya reda, malah bertambah. Gugup dan salting. Mulutku terkunci.
“Nih..” katanya sambil menyerahkan 5 tangkai mawar merah (means: I love you very much), sesuai permintaanku, juga rok yang dikenakannya. Florence jarang memakai rok, jelas ini hanya khusus buatku. Aku memang lebih suka melihat cewek memakai rok dibanding celana panjang, lebih feminim.

Dalam perjalanan menuju tempat parkir kami tak banyak bicara, lidahku benar-benar kelu. Kami hanya saling pandang dan lempar senyum. Sambil jalan tangan kiriku merangkul bahunya. November di Roma dinginnya menusuk tulang. Tapi bukan karena kedinginan itu aku memeluk bahunya. Ini memang sering kukhayalkan sebelumnya, aku ingin semesra mungkin. Wow, Florence membuka pintu mobilnya yang iklannya berbunyi, “Kelas tersendiri” warna biru dan jendela kaca yang gelap.
“Welcome to America, Mas..” sambutnya setelah kami duduk di mobil.
“Oh, makasih Yang,” sahutku menatap matanya. Kami saling bertatapan.

Kusingkirkan derai-derai poninya lalu kukecup dahinya, lembut tapi penuh perasaan. Matanya terpejam, bahkan belum terbuka ketika aku melepaskan kecupanku. Kusentuhkan punggung jari-jariku ke pipinya. Florence membuka mata. Kukecup ujung hidungnya yang mancung, sekejap. Lalu wajahnya mendekat, bibirnya sedikit membuka dan kami siap berciuman untuk pertama kalinya. Aku kecele. Bibir Florence mendarat di bawah bibirku. Oh.. Kenapa aku lupa! Dalam chatting kami Florence pernah menulis dia suka mencium daerah antara bibir dengan dagu. Tapi aku tak mau kalah, kupegang dagunya dan kukecup bibirnya. Lumatan erat diikuti dengan permainan lidah. Tubuhku mulai menghangat. Sesak nafas dan sesak ‘di bawah’ sana.

Bibir Florence bergeser ke bawah, aku segera tahu apa yang akan dilakukan: menggigiti daguku. Kubalas dan Florence melenguh, lenguhan pertama yang kudengar. Posisi ciuman yang kurang nyaman sebenarnya, sebab tubuh kami dipisahkan oleh box dan tongkat gigi automatic mobilnya. Pinggang kami masing-masing harus diputar 45 derajat. Tapi tak mengapa, perasaan nikmat bercumbu yang sudah lama ditunggu mampu mengatasi rasa pinggang tak nyaman. Ketika aku mencumi lehernya, kurasakan ada bayangan sekelebat lewat. Dengan refleks aku melepaskan ciuman dam memeriksa sekeliling. Bayangan dari orang yang menyeret koper besar lewat di depan kami. “Tenang aja, dia nggak akan lihat..” kata Florence. Kulepas jacket Florence. “Nggak dingin kan Yang?” Florence menggeleng, walaupun hanya memakai blouse tanpa lengan. Bibirku menelusuri lengan atasnya yang terbuka. Benar-benar sehalus kulit bayi.

Blouse tanpa lengan itupun telah kulepas. Kujilati dadanya yang masih tertutup bra cream muda, mulai di belahan terus bergeser kiri dan kanan. Perlahan kuturunkan tali bra kirinya lalu kuciumi bagian atas gumpalan bukit kirinya. “Aauw..” teriakan kecilnya ketika tanpa sadar aku menggigit buah dadanya. Gemes! Ketika aku ingin melepaskan bra-nya, Florence menahan. Kupandangi matanya, caraku bertanya tanpa suara. Florence menjawab dengan melepaskan kancing kemejaku satu persatu, juga singletku. jari-jarinya menelusuri bulu-bulu dadaku, lalu menciuminya. Kesempatan ini kugunakan untuk melepas kaitan bra dipunggungnya. Dengan gemas aku mengunyel-unyel kedua bukit kembarnya.

Florence melepas sepatu dan mengangkat kakinya ‘menyeberang’ tongkat perseneling ke arahku. Aku tanggap, mengelus-elus sepasang kaki panjangnya sebelum menciuminya. Kedua tanganku menerobos masuk rok hijaunya menelusuri lengkungan pahanya. Aku harus bangkit agar mulutku bisa mencapai sepasang paha putihnya. Mulut Florence terus mencerecau. Melenguh dan merintih, kadang teriak. Pada saat kedua tanganku mencapai pinggangnya, kutarik celana dalamnya. Sekilas sempat kulihat cairan bening ketika kain itu berpisah dengan isinya. Belum sempat aku menyerbu kewanitaannya, tiba-tiba Florence bangkit melepaskan ciumanku di pahanya. Dengan tergesa dibukanya ikat pinggangku, kancing celanaku dan reitsleting-nya lalu mengeluarkan ‘isinya’ yang tegak menjulang. Dan.. ohh.. mulutku berdesis seperti orang yang kepedasan. Entah apa saja yang dilakukan mulut Florence pada milikku itu, hasilnya: nikmat. Kadang ujung lidahnya yang sedikit keluar dari mulutnya menelusuri bagian bawah seluruh batangku, kadang seolah-olah menggigit dari arah samping, dan kadang punyaku lenyap ke dalam mulutnya.

Kami berdua telah siap untuk tahap terpenting: penetrasi. Tapi aku ragu melangkah, aku belum pernah bersetubuh di dalam mobil. Bercinta di dalam mobil adalah ‘agenda’ pertama yang sudah kami rencanakan jauh hari sebelumnya. Aku yang memintanya dan Florence merancang agenda 1 ini di tempat parkir. Gimana posisinya? Florence yang mengambil inisiatif. Dia pindah dari kursi di belakang setir ke kursiku lalu duduk di pangkuanku dengan kakinya yang membentang. Digenggamnya kemaluanku lalu disapu-sapukannya di selangkangannya.

Saat Florence melepas pegangannya dari milikku, kurasakan tubuhnya menekanku. Aku mulai memasuki tubuhnya. Hangat, basah, dan nikmat. Kami lalu ‘berkudaan’. Kedua tanganku mengunci punggungnya dan mulutku bermain di dadanya. Kedua kakiku bertumpu kuat di lantai mobil sehingga sesekali aku menusuk kuat dengan sekali mengangkat tubuhnya. Florence jadi lebih aktif dengan posisi begini. Tubuhnya berguncang makin cepat. Kadang aku harus melambatkan gerakannya agar aku bisa merasakan sensasi gesekan batang kejantananku pada dinding-dinding kemaluannya. Gerakannya jadi bervariasi yang membuat tubuhku serasa melayang-layang.

“Oohh Yaang..!” teriakku.
“Maass..” balasnya.
Kucengkeram tubuh Florence kuat-kuat, tanpa ragu aku memuntahkan spermaku ke dalam tubuh Florence. Aku berani ejakulasi di dalam, karena Florence telah mempersiapkan semuanya. Dia telah memproteksi tubuhnya agar aman, khusus hanya untukku. Bahkan untuk pacar tetapnya Florence, Erick dan bahkan ketika dia bersenggama dengan pacar gelapnya yang bernama Herman (kata dia lho) masih melakukan coitus interuptus.

Oh Florence, sungguh aku terharu atas upayamu ini. Aku mencintaimu. Setelah itu Florence memelukku dengan erat dan setelah aku check-in di hotel, kita melakukannya lagi seharian apalagi menurut pengakuannya, kekasihnya Erick selalu sibuk dengan urusan bisnisnya dan sekarang dia sedang pergi ke Pontianak, Indonesia untuk urusan bisnisnya dan aku berada di Roma bersama kekasih gelapku sementara istriku menungguku di rumah, gila ya?

TAMAT

This entry was posted in Cerita Sex Umum, Indo Nude and tagged , . Bookmark the permalink.