Sewaan ABG Bugil untuk Di EWE

Baju Biru Cute Sexy Girl RITA Buah Dadanya Segar Baru Tumbuh (3).Kumpulan Cerita Bokep Indonesia_WM

Bar Refaeli (3).ngentot adik ipar part_WM

Bar Refaeli (22).RESEP TAHU ISI BIHUN SAYURAN RENYAH_WM

Barbara Palvin (1).Bloody Aliens! v1.02 APK_WM

beautiful saki koto (10).nikmatnya pesta seks bersama ibu ibu_WM

mekpersekscom/,cerita sex di malam pengantin,cerita vani
cerita bercinta dimobil,cerita dewasa isap pentil hot,cerita sex malam pertama terbaru
memek bibi,cerita sex gadis pengantin baru

Posted in Kamar Naked, snsdlover | Tagged , , , , , , , , | Comments Off on Sewaan ABG Bugil untuk Di EWE

Gambar Memek Bispak Dicolok Pake Dildo Gede

Becki Newton (8).cerita sex dengan kerudung_WM

BEG Son Ga In (9).Talking Tom’s Bubbles v1.0.0.337 APK_WM

belahan dada pepaya bugil montok (1).kumpulan remaja telanjang dgn pasangannya_WM

Belinda Peregrín Schüll.cerita sexx ngewee dengn mmh dan temn mmh_WM

Beverley Mitchell (1).song ji hyo porno_WM

memek uun,binor tocil gemesin,pepek cen cen,cerita nenen hot sama istri,gambar orang kentotan
foto bugil wiwit gunawan,cewek nakal di bogor,poto bugil artis thailand,poto kimcil telanjang

Posted in Bokep Naked, snsdlover | Tagged , , , , , , , , | Comments Off on Gambar Memek Bispak Dicolok Pake Dildo Gede

Foto Tante Narsis Pamer Bokong Seksi

Beyoncé Knowles (2).cantik nude_WM

Beyoncé Knowles (13).Cara Budidaya Ikan Gabus Hasil Bombastis_WM

Beyoncé Knowles (24).olla ramlan hot telanjang_WM

Beyoncé Knowles (37).Jenis Burung Perkutut Lokal Daerah Indonesia_WM

Bibi Pembantu Jilbab Bugil (10).Cewek Jepang Bugil, Ngangkang, Pamer Jembut Lebat_WM

peri telanjamg,kumpullan memek cewek kersiten,foto santri wati hot,
nenen jilbab,foto bokep cewek & hewan,gamble meek sudan melanoma,
poto lubang memek perawan,foto gadis ngentot,www majalahlendircom,gmbr meki kering

Posted in Perawan Naked, snsdlover | Tagged , , , , , , , , , , | Comments Off on Foto Tante Narsis Pamer Bokong Seksi

Cerita Dewasa : Tante Ani..Guru Seksku

Billie Piper (2).kisah fotografer adi laura_WM

Billie Piper (14).Model Fashion Terbaru Baju Muslim Wanita 2016_WM

Billie Piper (25).RESEP ANEKA MASAKAN BERKUAH BENING & SANTAN PRAKTIS_WM

Bipasha Basu (21).Download Life is Strange Episode 5 PC Game Full Version_WM

Birahi Siswi Sex Anak Putri kostan (1).kyungri nude_WM

CerSexMek Cerita Sex Memek, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum Terbaru,
( Cerita Sex Memek = CSM ) – Cerita Sex Memek : Cerita Dewasa : Tante Ani..Guru Seksku


( Cerita Sex Memek = CSM )

Umurku sekarang sudah 30 tahun. Sampai sekarang aku masih hidup membujang, meskipun sebenarnya aku sudah sangat siap kalau mau menikah. Meskipun aku belum tergolong orang yang berpenghasilan wah, namun aku tergolong orang yang sudah cukup mapan, punya posisi menengah di tempat kerjaku sekarang. Aku sampai sekarang masih malas untuk menikah, dan memilih menikmati hidup sebagai petualang, dari satu wanita ke wanita yang lain. Kisahku sebagai petualang ini, dimulai dari sebuah kejadian kira-kira 12 tahun yang lalu.

Waktu itu aku masih kelas 3 SMU. Hari itu aku ada janji dengan Agus, sahabatku di sekolah. Rencananya dia mau mengajakku jalan-jalan ke Mall ‘X’ sekedar menghilangkan kepenatan setelah seminggu penuh digojlok latihan sepak bola habis-habisan. Sejam lebih aku menunggu di warung depan gang rumah pamanku (aku tinggal numpang di rumah paman, karena aku sekolah di kota yang jauh dari tempat tinggal orangtuaku yang di desa). Jalan ke Mall ‘X’ dari rumah Agus melewati tempat tinggal pamanku itu, jadi janjinya aku disuruh menunggu di warung pinggir jalan seperti biasa. Aku mulai gelisah, karena biasanya Agus selalu tepat janji. Akhirnya aku menuju ke telepon umum yang ada di dekat situ, pengin nelpon ke rumah Agus, memastikan dia sudah berangkat atau belum (waktu itu HP belum musim bro, paling juga pager yang sudah ada, tapi itupun kami tidak punya).

“Sialan.. telkom ini, barang rongsokan di pasang di sini!,” gerutuku karena telpon koin yang kumasukkan keluar terus dan keluar terus. Setelah uring-uringan sebentar, akhirnya kuputuskan untuk ke rumah Agus. Keputusan ini sebenarnya agak konyol, karena itu berarti aku berbalik arah dan menjauh dari Mall ‘X’ tujuan kami, belum lagi kemungkinan bersimpang jalan dengan Agus. Tapi, kegelisahanku mengalahkan pertimbangan itu. Akhirnya, setelah titip pesan pada penjual di warung kalau-kalau Agus datang, aku langsung menyetop angkot dan menuju ke rumah Agus.

Sesampai di rumah Agus, kulihat suasananya sepi. Padahal sore-sore begitu biasanya anggota keluarga Agus (Papa, Mama dan adik-adik Agus, serta kadang pembantunya) pada ngobrol di teras rumah atau main badminton di gang depan rumah. Setelah celingak-celinguk beberapa saat, kulihat pembantu di rumah Agus keluar dari pintu samping.

“Bi.. Bibi.. kok sepi.. pada kemana yah?” tanyaku. Aku terbilang sering main ke rumah Agus, begitu juga sebaliknya Agus sering main ke rumah pamanku, tempatku tinggal. Jadi aku sudah kenal baik dengan semua penghuni rumah Agus, termasuk pembantu dan sopir papanya.

“Eh, mas Didik.. pada pergi mas, pada ikut ndoro kakung (juragan laki-laki). Yang ada di rumah cuman ndoro putri (juragan wanita),” jawabnya dengan ramah.

“Oh.. jadi Agus ikut pergi juga ya Bi. Ya sudah kalau begitu, lain waktu saja saya ke sini lagi,” jawabku sambil mau pergi.

“Lho, nggak mampir dulu mas Didik. Mbok ya minum-minum dulu, biar capeknya hilang.”

“Makasih Bi, sudah sore ini,” jawabku.

Baru aku mau beranjak pulang, pintu depan tiba-tiba terbuka. Ternyata Tante Ani, mama Agus yang membuka pintu.

“Bibi ini gimana sih, ada tamu kok nggak disuruh masuk?”, katanya sambil sedikit mendelik pada si pembantu.

“Udah ndoro, sudah saya suruh duduk dulu, tapi mas Didik nggak mau,” jawabnya.

“Eh, nak Didik. Kenapa di luaran aja. Ayo masuk dulu,” kata Tante Ani lagi.

“Makasih tante. Lain waktu aja saya main lagi tante,” jawabku.

“Ah, kamu ini kayak sama orang lain saja. Ayo masuk sebentar lah, udah datang jauh-jauh kok ya balik lagi. Ayo masuk, biar dibikin minum sama bibi dulu,” kata Tante Ani lagi sambil melambai ke arahku.

Aku tidak bisa lagi menolak, takut membuat Tante Ani tersinggung. Kemudian aku melangkah masuk dan duduk di teras, sementara Tante Ani masih berdiri di depan pintu.

“Nak Didik, duduk di dalem saja. Tante lagi kurang enak badan, tante nanti nggak bisa nemenin kamu kalau duduk di luar.”

“Ya tante,” jawabku sambil masuk ke rumah dengan perasaan setengah sungkan.

“Agus ikut Om pergi kemana sih tante?” tanyaku basa-basi setelah duduk di sofa di ruang tamu.

“Pada ke *kota X*, ke rumah kakek. Mendadak sih tadi pagi. Soalnya om-mu itu kan jarang sekali libur. Sekali boleh cuti, langsung mau nengok kakek.”

“Ehm.. tante nggak ikut?”

“Besuk pagi rencananya tante nyusul. Soalnya hari ini tadi tante nggak bisa ninggalin kantor, masih ada yang mesti diselesaiin,” jawab Tante Ani. “Emangnya Agus nggak ngasih tahu kamu kalau dia pergi?”

“Nggak tante,” jawabku sambil sedikit terheran-heran. Tidak biasanya Tante Ani menyebutku dengan “kamu”. Biasanya dia menyebutku dengan “nak Didik”.

“Kok bengong!” Tanya Tante Ani membuatku kaget.

“Eh.. anu.. eh..,” aku tergugup-gugup.

“Ona-anu, ona-anu. Emang anunya siapa?” Tante Ani meledek kegugupanku yang membuatku makin jengah. Untung Bibi segera datang membawa secangkir teh hangat, sehingga rasa jengahku tidak berkepanjangan.

“Mas Didik, silakan tehnya dicicipin, keburu dingin nggak enak,” kata bibi sambil menghidangkan teh di depanku.

“Makasih Bi,” jawabku pelan.

“Itu tehnya diminum ya, tante mau mandi dulu.. bau,” kata Tante Ani sambil tersenyum. Setelah itu Tante Ani dan pembantunya masuk ke ruang tengah. Sementara aku mulai membaca-baca koran yang ada di meja untuk.

Hampir setengah jam aku sendirian membaca koran di ruang tamu, sampai akhirnya Tante Ani nampak keluar dari ruang tengah. Dia memakai T-shirt warna putih dipadu dengan celana ketat di bawah lutut. Harus kuakui, meskipun umurnya sudah 40-an namun badannya masih bagus. Kulitnya putih bersih, dan wajahnya meskipun sudah mulai ada kerut di sana-sini, tapi masih jelas menampakkan sisa-sisa kecantikannya.

“Eh, ngapain kamu ngliatin tante kayak gitu. Heran ya liat nenek-nenek.”

“Mati aku!” kataku dalam hati. Ternyata Tante Ani tahu sedang aku perhatikan. Aku hanya bisa menunduk malu, mungkin wajahku saat itu sudah seperti udang rebus.

“Heh, malah bengong lagi,” katanya lagi. Kali ini aku sempat melihat Tante Ani tersenyum yang membuatku sedikit lega tahu kalau dia tidak marah.

“Maaf tante, nggak sengaja,” jawabku sekenanya.

“Mana ada nggak sengaja. Kalau sebentar itu nggak sengaja, lha ini lama gitu ngeliatnya,” kata Tante Ani lagi. Meskipun masih merasa malu, namun aku agak tenang karena kata-kata Tante Ani sama sekali tidak menunjukkan sedang marah.

“Kata Agus, kamu mau pertandingan sepakbola di sekolah ya?” Tanya Tante Ani.

“Eh, iya tante. Pertandingan antar SMU se-kota. Tapi masih dua minggu lagi kok tante, sekarang-sekarang ini baru tahap penggojlokan,” Aku sudah mulai tenang kembali.

“Pelajaran kamu terganggu nggak?”

“Ya sebenarnya lumayan menggangu tante, habisnya latihannya belakangan ini berat banget, soalnya sekolah sengaja mendatangkan pelatih sepakbola beneran. Tapi, sekolah juga ngasih dispensasi kok tante. Jadi kalau capeknya nggak ketulungan, kami dikasih kesempatan untuk nggak ikut pelajaran. Kalau nggak begitu, nggak tahu lah tante. Soalnya kalau badan udah pegel-pegel, ikut pelajaranpun nggak konsen.”

“Kalau pegel-pegel kan tinggal dipijit saja,” kata Tante Ani.

“Masalahnya siapa yang mau mijit tante?”

“Tante mau kok,” jawab Tante Ani tiba-tiba.

“Ah, tante ini becanda aja,” kataku.

“Eh, ini beneran. Tante mau mijitin kalau memang kamu pegel-pegel. Kalau nggak percaya, sini tante pijit,” katanya lagi.

“Enggak ah tante. Ya, saya nggak berani tante. Nggak sopan,” jawabku sambil menunduk setelah melihat Tante Ani nampak sungguh-sungguh dengan kata-katanya.

“Lho, kan tante sendiri yang nawarin, jadi nggak ada lagi kata nggak sopan. Ayo sini tante pijit,” katanya sambil memberi isyarat agar aku duduk di sofa di sebelahnya. Penyakit gugupku kambuh lagi. Aku hanya diam menunduk sambil mempermainkan jari-jariku.

“Ya udah, kalau kamu sungkan biar tante ke situ,” katanya sambil berjalan ke arahku. Sebentar kemudian sambil berdiri di samping sofa, Tante Ani memijat kedua belah pundakku. Aku hanya terdiam, tidak tahu persis seperti apa perasaanku saat itu.

Setelah beberapa menit, Tante Ani menghentikan pijitannya. Kemudian dia masuk ke ruang tengah sambil memberi isyarat padaku agar menunggu. Aku tidak tahu persis apa yang dilakukan Tante Ani setelah itu. Yang aku tahu, aku sempat melihat bibi pembantu keluar rumah melalui pintu samping, yang tidak lama kemudian disusul Tante Ani yang keluar lagi dari ruang tengah.

“Bibi tante suruh beli kue. Kue di rumah sudah habis,” katanya seolah menjawab pertanyaan yang tidak sempat kuucapkan. “Ayo sini tante lanjutin mijitnya. Pindah ke sini aja biar lebih enak,” kali itu aku hanya menurut saja pindah ke sofa panjang seperti yang disuruh Tante Ani. Kemudian aku disuruh duduk menyamping dan Tante Ani duduk di belakangku sambil mulai memijit lagi.

“Gimana, enak nggak dipijit tante?” Tanya Tante Ani sambil tangannya terus memijitku. Aku hanya mengangguk pelan.

“Biar lebih enak, kaosnya dibuka aja,” kata Tante Ani kemudian. Aku diam saja. Bagaimana mungkin aku berani membuka kaosku, apalagi perasaanku saat itu sudah tidak karuan.

“Ya sudah. Kalau gitu, biar tante bantu bukain,” katanya sambil menaikkan bagian bawah kaosku. Seperti kena sihir aku menurut saja dan mengangkat kedua tanganku saat Tante Ani membuka kaosku.

Setelah itu Tante Ani kembali memijitku. Sekarang tidak lagi hanya pundakku, tapi mulai memijit punggung dan kadang pinggangku. Perasaanku kembali tidak karuan, bukan hanya pijitannya kini, tapi sepasang benda empuk sering menyentuh bahkan kadang menekan punggungku. Meski seumur-umur aku belum pernah menyentuh payudara, tapi aku bisa tahu bahwa benda empuk yang menekan punggungku itu adalah sepasang payudara Tante Ani.

Beberapa lama aku berada dalam situasi antara merasa nyaman, malu dan gugup sekaligus, sampai akhirnya aku merasakan ada benda halus menelusup bagian depan celanaku. Aku terbelalak begitu mengetahui yang menelusup itu adalah tangan Tante Ani.

“Tante.. ” kataku lirih tanpa aku sendiri tahu maksud kataku itu. Tante Ani seperti tidak mempedulikanku, dia malah sudah bergeser ke sampingku dan mulai membuka kancing serta retsluiting celanaku. Sementara itu aku hanya terdiam tanpa tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya aku mulai bisa melihat dan merasakan Tante Ani mengelus penisku dari luar CD-ku.

Aku merasakan sensasi yang luar biasa. Sesuatu yang baru pertama kali itu aku rasakan. Belum lagi aku sadar sepenuhnya apa yang terjadi, aku mendapati penisku sudah menyembul keluar dan Tante Ani sudah menggenggamnya sambil sesekali membelai-belainya. Setelah itu aku lebih sering memejamkan mata sambil sekali-kali melirik ke arah penisku yang sudah jadi mainan Tante Ani.

Tak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan yang jauh lebih mencengangkan. Kepala penisku seperti masuk ke satu lubang yang hangat. Ketika aku melirik lagi, kudapati kepala penisku sudah masuk ke mulut Tante Ani, sementara tangannya naik turun mengocok batang penisku. Aku hanya bisa terpejam sambil mendesis-desis keenakan. Beberapa menit kemudian aku merasakan seluruh tubuhku mulai mengejang. Aku merasakan Tante Ani melepaskan penisku dari mulutnya, tapi mempercepat kocokan pada batang penisku.

“Sssshhhh.. creettt… creett… ” Sambil mendesis menikmati sensasi rasa yang luar biasa aku merasakan cairan hangat menyemprot sampai ke dadaku, cairan air mani ku sendiri.

“Ah, dasar anak muda, baru segitu aja udah keluar,” Tante Ani berbisik di dekat telingaku. Aku hanya menatap kosong ke wajah Tante Ani, yang aku tahu tangannya tidak berhenti mengelus-elus penisku. “Tapi ini juga kelebihan anak muda. Udah keluarpun, masih kenceng begini,” bisik Tante Ani lagi.

Setelah itu aku lihat Tante Ani melepas T-Shirtnya, kemudian berturut-turut, BH, celana dan CD-nya. Aku terus terbelalak melihat pemandangan seperti itu. Dan Tante Ani seperti tidak peduli kemudian meluruskan posisi ku, kemudian dia mengangkang duduk di atasku. Selanjutnya aku merasakan penisku digenggam lagi, kali ini di arahkan ke selangkangan Tante Ani.

“Sleppp…. Aaaaahhhhh… ” suara penisku menembus vagina Tante Ani diiringi desahan panjangnya. Kemudian Tante Ani bergerak turun naik dengan cepat sambil mendesah-desah. Mulutnya terkadang menciumi dada, leher dan bibirku.

Ada beberapa menit Tante Ani bergerak naik turun, sampai akhirnya dia mempercepat gerakannya dan mulai menjerit-jerit kecil dengan liarnya. Akupun kembali merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tak lama kemudian…

“Aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh…….. ,” Tante Ani melenguh panjang, bersamaan dengan teriakanku yang kembali merasakan puncak yang kedua kali. Setelah itu Tante Ani terkulai, merebahkan kepalanya di dadaku sambil memeluk pundakku.

“Terima kasih Dik…,” bisiknya lirih diteruskan kecupan ke bibirku.

Sejak kejadian itu, aku mengalami syok. Rasa takut dan bersalah mulai menghantui aku. Sulit membayangkan seandainya Agus mengetahui kejadian itu. Perubahan besar mulai terjadi pada diriku, aku mulai sering menyendiri dan melamun.

Namun selain rasa takut dan bersalah, ada perasaan lain yang menghinggapi aku. Aku sering terbayang-bayang Tante Ani dia telanjang bulat di depanku, terutama waktu malam hari, sehingga aku tiap malam susah tidur. Selain seperti ada dorongan keinginan untuk mengulangi lagi apa yang telah Tante Ani lakukan padaku.

Perubahan pada diriku ternyata dirasakan juga oleh paman dan bibiku dan juga teman-temanku, termasuk Agus. Tentu saja aku tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Situasi seperti itu berlangsung sampai seminggu lebih yang membuat kesehatanku mulai drop akibat tiap malam susah tidur, dan paginya tetap kupaksakan masuk sekolah. Akibat dari itu pula, akhirnya aku memilih mundur dari tim sepakbola sekolahku, karena kondisiku tidak memungkinkan lagi untuk mengikuti latihan-latihan berat.

Kira-kira seminggu setelah kejadian itu, aku berjalan sendirian di trotoar sepulang sekolah. Aku menuju halte yang jaraknya sekitar 300 meter dari sekolahku. Sebenarnya persis di depan sekolahku juga ada halte untuk bus kota, namun aku memilih halte yang lebih sepi agar tidak perlu menunggu bus bareng teman-teman sekolahku.

Saat asyik berjalan sambil menunduk, aku dikejutkan mobil yang tiba-tiba merapat dan berhenti agak di depanku. Lebih terkejut lagi saat tahu itu mobil itu mobil papanya Agus. Setelah memperhatikan isi dalam mobil, jantungku berdesir. Tante Ani yang mengendari mobil itu, dan sendirian.

“Dik, cepetan masuk, ntar keburu ketahuan yang lain,” panggil Tante Ani sambil membuka pintu depan sebelah kiri. Sementara aku hanya berdiri tanpa bereaksi apa-apa.

“Cepetan sini!” kali ini suara Tante Ani lebih keras dan wajahnya menyiratkan kecemasan.

“I.. Iya.. tante,” akhirnya aku menuruti panggilan Tante Ani, dan bergegas masuk mobil.

“Nah, gitu. Keburu ketahuan temen-temenmu, repot.” kata Tante Ani sambil langsung menjalankan mobilnya.

Di dalam mobil aku hanya diam saja, meskipun aku bisa sedikit melihat Tante Ani beberapa kali menengok padaku.

“Tumben kamu nggak bareng Agus,” Tanya Tante Ani tiba-tiba.

“Enn.. Enggak tante. Saya lagi pengin sendirian saja. Tante nggak sekalian jemput Agus?” aku sudah mulai menguasai diriku.

“Kan, emang Agus nggak pernah dijemput,” jawab Tante Ani.

“Eh, iya ya,” jawabku seperti orang bloon.

Setelah itu kami lebih banyak diam. Tante Ani mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai di sebuah komplek pertokoan Tante Ani melambatkan mobilnya sambil melihat-lihat mungkin mencari tempat parkir yang kosong. Setelah memarkirkan mobilnya, yang sepertinya mencari tempat yang agak jauh dari pusat pertokoan, Tante Ani mengajak aku turun.

Setelah turun, Tante Ani langsung menyetop taksi yang kebetulan sedang melintas. Terlihat dia bercakap-cakap dengan sopir taksi sebentar, kemudian langsung memanggilku supaya ikut naik taksi. Setelah masuk taksi, Tante Ani memberi isyarat padaku yang terbengong-bengong supaya diam, kemudian dia menyandarkan kepalanya pada jok taksi dan memejamkan matanya, entah kecapaian atau apa. Kira-kira 20 menit kemudian taksi memasuki pelataran sebuah hotel di pinggiran kota.

“Dik, kamu masuk duluan, kamu langsung aja. Ada kamar nganggur yang habis dipakai tamu kantor tante. Nanti tante nyusul,” kata Tante Ani memberikan kunci kamar hotel sambil setengah mendorongku agar keluar.

Kemudian aku masuk ke hotel, aku memilih langsung mencari petunjuk yang ada di hotel itu daripada tanya ke resepsionis. Dan memang tidak sulit untuk mencari kamar dengan nomor seperti yang tertera di kunci. Singkat cerita aku sudah masuk ke kamar, namun hanya duduk-duduk saja di situ.

Kira-kira 15 menit kemudian terdengar ketukan di pintu kamar, ternyata Tante Ani. Dia langsung masuk dan duduk di pinggir ranjang.

“Agus bilang kamu keluar dari tim sepakbola ya?!” tanyanya tanpa ba-bi-bu dengan nada agak tinggi.

“I.. iya tante,” jawabku pelan.

“Kamu juga nggak pernah lagi kumpul sama temen-temen kamu, nggak pernah main lagi sama Agus,” Tante Ani menyemprotku yang hanya bisa diam tertunduk.

“Kamu tahu, itu bahaya. Orang-orang dan keluargaku bisa tahu apa yang sudah terjadi.. ,” kata-kata Tante Ani terputus dan terdengar mulai sedikit sesenggukan.

“Tapi.. saya nggak pernah ngasih tahu siapa-siapa,” kataku.

“Memang kamu belum ngasih tahu, tapi kalau ditanyain terus-terusan bisa-bisa kamu cerita juga,” katanya lagi sambil sesenggukan. “Apa yang terjadi dengan keluarga tante jika semuanya tahu!”

“Tante memang salah, tante yang membuat kamu jadi begitu,” kata Tante Ani, kali ini agak lirih sambil menahan tangisnya. “Tapi kalau kamu merasakan seperti yang tante rasakan..” terputus lagi.

“Merasakan apa tante?”

Akhirnya Tante Ani cerita panjang lebar tentang rumah tangganya. Tentang suaminya yang sibuk mengejar karir, sehingga hampir tiap hari pulang malam, dan jarang libur. Tentang kehidupan seksualnya sebagai akibat dari kesibukan suaminya, serta beratnya menahan hasrat biologisnya akibat dari semua itu.

“Kalau kamu mau marah, marahlah. Entah kenapa, tante nggak sanggup lagi menahan dorongan birahi waktu kamu ke rumah minggu kemarin. Terserah kamu mau menganggap tante kayak apa, yang penting kamu sudah tahu masalah tante. Sekarang kalau mau pulang, pulanglah, tante yang ngongkosin taksinya,” kata Tante Ani lirih sambil membuka tasnya, mungkin mau mengeluarkan dompet.

“Nggak.. nggak usah tante.. ” aku mencegah. “Saya belum mau pulang, saya nggak mau membiarkan tante dalam kesedihan.” Entah pengaruh apa yang bisa membuatku seketika bisa bersikap gagah seperti itu. Aku hampiri Tante Ani, aku elus-elus kepalanya. Hilang sudah perasaan sungkanku padanya. Tante Ani kemudian memeluk pinggangku dan membenamkan kepalanya dalam pelukanku.

Setelah beberapa lama, aku duduk di samping Tante Ani. Kuusap-usap dan sibakkan rambutnya. Kusap pipinya dari airmata yang masih mengalir. Pelahan kucium keningnya. Kemudian, entah siapa yang mulai tiba-tiba bibir kami sudah saling bertemu. Ternyata, kalau tidak sedang merasa sungkan atau takut, aku cukup lancar juga mengikuti naluri kelelakianku.

Cukup lama kami berciuman bibir, dan makin lama makin liar. Aku mulai mengusap punggung Tante Ani yang masih memakai baju lengkap, dan kadang turun untuk meremas pantatnya. Tante Ani pun melakukan hal yang sama padaku.

Tante Ani sepertinya kurang puas bercumbu dengan pakaian lengkap. Tangannya mulai membuka kancing baju seragam SMU-ku, kemudian dilepasnya berikut kaos dalam ku. Kemudian dia melepaskan pelukanku dan berdiri. Pelan-pelan dia membuka pakain luarnya, sampai hanya memakai CD dan BH. Meskipun aku sudah melihat Tante Ani telanjang, tapi pemandangan yang sekarang ada di depanku jauh membuat nafsuku bergejolak, meskipun masih tertutup CD dan BH. Aku langsung berdiri, kupeluk dan kudorong ke arah dinding, sampai kepala Tante Ani membentur dinding, meski tidak begitu keras.

“Ah, pelan-pelan doonnng,” kata Tante Ani manja diiringi desahannya desahannya.

Aku semakin liar saja. Kupagut lagi bibir Tante Ani, sambil tanganku meremas-remas buah dadanya yang masih memakai BH. Tante Ani tidak mau kalah, bahkan tangannya sudah mulai melepaskan melorotkan celana luar dan dalamku. Kemudian, diteruskannya dengan menginjaknya agar bisa melorot sempurna. Aku bantu upaya Tante Ani itu dengan mengangkat kakiku bergantian, sehingga akhirnya aku sudah telanjang bulat.

Setelah itu Tante Ani membantuku membuka pengait BH-nya yang ada di belakang. Rupanya dia tahu aku kesulitan untuk membuka BH-nya. Sekarang aku leluasa meremas-remas kedua buah dada Tante Ani yang cukup besar itu, sedang Tante Ani mulai mengelus dan kadang mengocok penisku yang sudah sangat tegang.

Kemudian tante setengah menjambak Tante Ani mendorong kepalaku di arahkan ke buah dadanya yang sebelah kiri. Kini puting susu itu sudah ada di dalam mulutku, kuisap-isap dan jilati mengikuti naluriku.

“Aaaaahh….. oooouhghhh… ” desahan Tante Ani makin keras sambil tangannya tak berhenti mempermainkan penisku.

Beberapa kali aku isap puting susu Tante Ani bergantian, mengikuti sebelah mana yang dia maui. Setelah puas buah dadanya aku mainkan, Tante Ani mendorong tubuhku pelan ke belakang. Kemudian dia berputar, berjalan mundur sambil menarikku ke arah ranjang. Sampai di pinggir ranjang, Tante Ani sengaja menjatuhkan dirinya sehingga sekarang dia telentang dengan aku menindih di atasnya, sementara kakinya dan kakiku masih menginjak lantai. Setelah itu, dia berusaha melorotkan CD-nya, yang kemudian aku bantu sehinggap Tante Ani kini untuk kedua kalinya telanjang bulat di depanku.

Usai melepas CD-nya aku masih berdiri memelototi pemandangan di depanku. Tante Ani yang telentang dengan nafas memburu dan mata agak saya menatapku. Gundukan di selangkangannya yang ditumbuhi bulu tidak begitu lebat nampak benar menantang, seperti menyembul didukung oleh kakinya yang masih menjuntai ke lantai. Bibir vaginanya nampak mengkilap terkena cairan dari dalamnya. (Waktu itu aku belum bisa menilai dan membanding-bandingkan buah dada, mana yang kencang, bagus dan sebagainya. Paling hanya besar-kecilnya saja yang bisa aku perhatikan).

“Sini sayaangg.. ,” panggil Tante Ani yang melihat aku berdiri memandangi tiap jengkal tubuhnya. Aku menghampirinya, menindih dan mencoba memasukkan penisku ke lubang vaginanya. Tapi, Tante Ani menahanku. Nampak dia menggeleng sambil memandangku. Kemudian tiba-tiba kepalaku didorong kebawah. Terus didorong cukup kuat sampai mulutku persis berada di depan lubang vaginanya. Setelah itu Tante Ani berusaha agar mulutku menempel ke vaginanya. Awalnya aku ikuti, tapi setelah mencium bau yang aneh dan sangat asing bagiku, aku agak melawan.

Mengetahui aku tidak mau mengikuti kemauannya, dia bangun. Ditariknya kedua tanganku agar aku naik ke ranjang, ditelentangkannya tubuhku. Sempat aku melihat bibirnya tersenyum, sebelum di mengangkang tepat di atas mulutku.

“Bleepp… ” aku agak gelagapan saat vagina Tante Ani ditempel dan ditekankan di mulutku. Tante Ani memberi isyarat agar aku tidak melawan, kemudian pelan-pelan vaginanya digesek-gesekkan ke mulutku, sambil mulutnya mendesis-desis tidak karuan. Aku yang awalnya rada-rada jijik dengan cairan dari vagina Tante Ani, sudah mulai familiar dan bisa menikmatinya. Bahkan, secara naluriah, kemudian ku keluarkan lidahku sehingga masuk ke lubang vagina Tante Ani.

“Oooohhh… sssshhh… pinter kamu sayang… oh… ” gerakan Tante Ani makin cepat sambil meracau. Tiba-tiba, dia memutar badannya. Kagetku hanya sejenak, berganti kenikmatan yang luar biasa setelah penisku masuk ke mulut Tante Ani. Aku merasakan kepala penisku dikulum dan dijilatinya, sambil tangannya mengocok batang penisku. Sementara itu, vaginanya masih menempel dimulutku, meskipun gesekannya sudah mulai berkurang. Sambil menikmati aku mengelus kedua pantat Tante Ani yang persis berada di depan mataku.

Setelah puas dengan permainan seperti itu, Tante Ani mulai berputar dan bergeser. Masih mengangkang, tapi tidak lagi di atas mulutku, kali ini tepat di atas ujung penisku yang tegak.

“Sleep.. blesss… ooooooooooooohhhhhh,” penisku menancap sempurna di dalam vagina Tante Ani diikuti desahan panjangnya, yang malah lebih mirip dengan lolongan.

Tante Ani bergerak naik turun sambil mulutnya meracau tidak karuan. Tidak seperti yang pertama waktu di rumah Tante Ani, kali ini aku tidak pasif. Aku meremas kedua buah dada Tante Ani yang semakin menambah tidak karuan racauannya. Rupanya, aksi Tante Ani itu tidak lama, karena kulihat tubuhnya mulai mengejang. Setengah menyentak dia luruskan kakinya dan menjatuhkan badannya ke badanku.

“Ooooooooohhh…. Aaaaaaaaahhh….. ” Tante Ani ambruk, terkulai lemas setelah mencapai puncak.

Beberapa saat dia menikmati kepuasannya sambil terkulai di atasku, sampai kemudian dia berguling ke samping tanpa melepas vaginanya dari penisku, dan menarik tubuhku agar gantian menindihnya.

Sekaraang gantian aku mendorong keluar-masuk penisku dari posisi atas. Tante Ani terus membelai rambut dan wajahku, tanpa berhenti tersenyum. Beberapa waktu kemudian aku mempercepat sodokanku, karena terasa ada bendungan yang mau pecah.

“Tanteeeeee……. Oooooohhh……. ” gantian aku yang melenguk panjang sambil membenamkan penisku dalam-dalam. Tante Ani menarik tubuhku menempel ketat ke dadanya, saat aku mencapai puncak.

Setelah sama-sama mencapai puncak kenikmatan, aku dan Tante Ani terus ngobrol sambil tetap berpelukan yang diselingi dengan ciuman. Waktu ngobrol itu pula Tante Ani banyak memberi tahu tentang seks, terutama bagian-bagian sensitif wanita serta bagaimana meng-eksplor bagian-bagian sensitif itu.

Setelah jam 4 sore, Tante Ani mengajak pulang. Aku sebenarnya belum mau pulang, aku mau bersetubuh sekali lagi. Tapi Tante Ani berkeras menolak.

“Tante janji, kamu masih terus bisa menikmati tubuh tante ini. Tapi ingat, kamu harus kembali bersikap seperti biasa, terutama pada Agus. Dan kamu harus kembali ke tim sepakbola. Janji?”

“He-em,” aku menganggukkan kepala.

“Ingat, kalau kamu tepat janji, tante juga tepat janji. Tapi kalau kamu ingkar janji, lupakan semuanya. Oke?” Aku sekali mengangguk.

Sebelum aku dan Tante Ani memakai pakaian masing-masing, aku sempatkan mencium bibir Tante Ani dan tak lupa bibir bawahnya. Setelah selesai berpakaian, Tante Ani memberiku ongkos taksi dan menyuruhku pulang duluan.

Sejak itu perasaanku mulai ringan kembali, dan aku sudah normal kembali. Aku juga bergabung kembali ke tim sepakbola sekolahku, yang untungnya masih diterima. Dari sepakbola itulah yang kemudian memuluskan langkahku mencari kerja kelak. Dan Tante Ani menepati janjinya. Dia benar-benar telah menjadi pasangan kencanku, dan guru sex-ku sekaligus. Paling sedikit seminggu sekali kami melakukannya berpindah-pindah tempat, dari hotel satu ke hotel yang lain, bahkan kadang-kadang keluar kota. Tentu saja kami melakukannya memakai strategi yang matang dan hati-hati, agar tidak diketahui orang lain, terutama keluarga Tante Ani.

Sejak itu pula aku mengalami perubahan yang cukup drastis, terutama dalam pergaulanku dengan teman-teman cewek. Aku yang awalnya dikenal pemalu dan jarang bergaul dengan teman cewek, mulai dikenal sebagai play boy. Sampai lulus SMU, beberapa cewek baik dari sekolahku maupun dari sekolah lain sempat aku pacari, dan beberapa di antaranya berhasil kuajak ke tempat tidur. (Lain waktu, kalau sempat saya ceritakan petualangan saya tersebut).

Begitulah kisah awalku dengan Tante Ani, yang akhirnya merubah secara drastis perjalanan hidupku ke depannya. Sampai saat ini, aku masih berhubungan dengan Tante Ani, meskipun paling-paling sebulan atau dua bulan sekali. Meskipun dari segi daya tarik seksual Tante Ani sudah jauh menurun, namun aku tidak mau melupakannya begitu saja. Apalagi, Tante Ani tidak pernah berhubungan dengan pria lain, karena dianggapnya resikonya terlalu besar.

Begitulah, Tante Ani yang terjepit antara hasrat seksual menggebu yang tak terpenuhi dengan status sosial yang harus selalu dijaga.

Posted in Indo Naked, snsdlover | Tagged | Comments Off on Cerita Dewasa : Tante Ani..Guru Seksku

Memusnahkan Guna-guna Pemikat Sukma 03

BoA (11).sex mama papa_WM

BoA (19).Eunjung Nude Fakes memek memekhots.com_WM

BoA (26).cerita sex ngentot baby sister baru_WM

BoA (34).Indahnya Susan, Nikmatnya Tante Betty 01_WM

BoA (42).Bandung Lautan Birahi_WM

Sambungan dari bagian 02

“Cukup!” suara itu menghentikan hisapanku.
Mbah Purwo mengeluarkan jarinya dari mulutku, lalu memasukkannya ke mulutnya sendiri sambil memejamkan mata. Tubuhnya nampak berkeringat dan licin.
“Masih tidak terlacak, Mbak,” desahnya sambil geleng-geleng kepala.
“Kita sekarang harus coba di bagian leher dan dada. Maaf, Mbak..”

Kali ini kulihat Mbah Purwo menggerakkan kaki, sehingga mengangkangiku di atas kasur, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di dadaku. Jari-jarinya lurus berada di bawah daguku. Agak geli juga aku ketika jari-jari itu bergerak-gerak seperti memijat atau mengelus dagu hingga leher. Kemudian terasa tangan itu bergeser turun, dan terus turun hingga penutup dadaku pun ikut merosot terbuka. Getar-getar aneh tapi nikmat kurasakan sewaktu kedua telapak tangan itu menelangkup tepat di kedua payudaraku yang sudah telanjang. Mata kupejamkan lagi, dan kurasakan pijatan-pijatan lembut itu. Berkali-kali ludah kutelan membayangkan kemesraan dan kenikmatan.

“Apa Mbak juga merasakan yang begini ini dengan Pak Kosim?” tanya Mbah Purwo.
“Ii.. iya, Mbah,” jawabku malu-malu sambil mendesah nikmat tanpa sadar.
Tubuhku pun menggelinjang. Birahiku melonjak-lonjak. Hal ini berlangsung cukup lama, selama pijatan-pijatan di sekitar dada dan payudaraku terus dilakukannya. Lama sekali rasanya sampai aku terlena setengah mengantuk. Sekonyong-konyong kurasakan hisapan pada puting kananku. Keras sekali. Aku terlonjak, tapi lenganku kiri-kanan segera ditekannya dengan kedua tangan hingga tidak dapat bergerak. Hisapan itu lalu berpindah ke kiri. Begitu dilakukannya berkali-kali sampai kurasakan payudaraku menggembung kian besar, seperti birahiku.

“Maaf, saya terpaksa harus mengambil cairan yang di bawah, Mbak Surti!” pintanya setelah menghentikan hisapannya.
Belum sempat kujawab, dengan cepat salah satu tangannya turun dan terus turun menelusupi celana dalamku hingga terlepas. Aku tersentak ketika salah satu jarinya menyentuh, membelai dan memasukiku. Aku tambah tersentak-sentak manakala jari itu semakin nakal dan liar seperti ular.. menjadi besar dan panjang. Tanpa sadar kubuka pahaku lebar-lebar. Mataku yang semula terpejam jadi terbeliak menahan kenikmatan.

Entah kapan dilakukan, ternyata kulihat milik Mbah Purwo lah yang telah memasukiku. Tidak tahu pula kapan ia menanggalkan busananya hingga bugil sepertiku. Ia menikamku bertubi-tubi dengan bertumpu pada lututnya. Mencangkul dan memasak diriku dengan gencar. Gerakannya yang lihai membuatku terlonjak-lonjak, dan aku terpaksa harus bangkit terduduk berpegangan pundaknya karena tidak tahan gempurannya.

“Bertahanlah.. Kita harus keluar bersamaan..” bisiknya ke telingaku sambil memeluk tubuhku dan terus membuatku kelojotan.
“Ampun, Mbah..” antara sadar dan tidak aku mengeluh karena merasakan kenikmatan sekaligus sedikit rasa sakit bersamaan.
“Tahan sebentar sakitnya, kau pasti akan mengalami puncak kenikmatan yang belum pernah kaurasakan seumur hidup.. Paku Bumiku terkenal paling hebat.”

Setelah ucapan ini, dia membaringkanku dan menindihku dengan berat tubuhnya yang laksana tiga karung beras. Aku tidak dapat bergerak selain membuka paha semakin lebar dan merangkulkan kaki ke pahanya. Puluhan menit lamanya kami bertahan dalam posisi menggairahkan itu. Hebat sekali pria ini mengolah gerak tubuhnya memuasiku dan dirinya sendiri tanpa kenal lelah. Menikam. Menghantam. Memacu dan terus memacu. Akhirnya kurasakan dia bagaikan seorang joki yang hendak mencapai garis finish. Dipacunya kuda sekencang-kencangnya. Nafasnya memburu menyapu wajahku. Dipagutnya bibirku.

Aku tidak tahan lagi. Seerr.. Bentengku jebol sudah.. kenikmatan yang dikatakan tadi benar-benar kualami. Bersamaan dengan itu tubuh di atasku pun mendadak tersentak-sentak belasan kali, sebelum akhirnya terpuruk lunglai. Keringat yang berleleran tidak kami hiraukan. Kami berpelukan meredakan nafas yang menderu.

“Mandilah di belakang,” suruh Mbah Purwo sambil mengenakan pakaianya kembali.
Ia ternyata cepat pulih lagi.
“Aku sudah memasang penangkal Paku Bumi pada kelaminmu. Nanti kau akan kuberi penangkal guna-guna Pak Kosim dan obat kuat untuk menyembuhkan rasa capai,” lanjutnya sambil keluar dari bilik.

Perlahan aku bangkit. Tubuhku terasa hancur sama seperti setelah digilir ketiga pemuda itu. Bisa kubayangkan kekuatan Mbah Purwo. Setelah mandi dan merapikan diri, aku kembali menghadap Mbah Purwo.
Dengan agak malu-malu aku bertanya, “Untuk apa penangkal di dalam kelamin saya ini, Mbah?”
“Oh, itu supaya Mbak tidak mudah terangsang. Saya rasakan tadi Mbak memiliki nafsu syahwat yang sangat kuat. Rangsangan sedikit saja sudah bisa membangkitkannya. Sengaja aku tidak beritahu sebelumnya bahwa untuk memasang penangkal Paku Bumi harus dalam keadaan orgasme. Kalau sebelumnya diberitahu, biasanya malah susah mencapai orgasme, dan mana mungkin Mbak mau saya begitukan, kan?” goda Mbah Purwo sambil tersenyum padaku.
Aku menunduk malu teringat ekspresiku sewaktu kesakitan tadi.

“Sampai berapa lama penangkal ini berfungsi, Mbah?” tanyaku masih penasaran.
“Selama belum diambil. Selama Mbak masih mudah terangsang, maka ia otomatis akan bekerja. Ia akan mengingatkan Mbak dengan sedikit rasa tidak enak seperti orang sedang menstruasi..”
“Apa ini berarti saya akan merasakan sakit itu setiap akan berhubungan dengan pria?” kejarku lagi.
“Lho, bukankah Mbak ini janda? Mau berhubungan dengan siapa?”
Pertanyaannya yang tidak terduga ini membuatku malu besar.
“Oh.. eh.. maaf, Mbah..”

“Ngg.. ya saya tahu,” ujarnya penuh pengertian,” wanita seusia Mbak dengan nafsu sangat kuat pasti masih membutuhkan hubungan seks dengan lawan jenis, tidak perduli janda atau bukan. Jangan kuatir, penangkal saya cuma akan memberi rasa tidak enak sekitar lima menit. Hal ini cuma untuk mengingatkan saja. Kalau suatu ketika Mbak benar-benar sudah tidak tahan dan harus bersetubuh dengan pria, maka lakukanlah setelah lima menit itu berlalu, maka rasa tidak enak itu akan hilang sendiri. Paku Bumi memang cuma untuk mengingatkan. Kalau yang diingatkan tidak mau maka penangkal ini akan melemah sendiri dan membiarkan segalanya terjadi.” Panjang lebar Mbah Purwo menjelaskan.

“Oh ya, kalau nanti sewaktu-waktu Mbak menikah lagi, penangkal itu sebaiknya diambil supaya tidak mengganggu. Datanglah ke sini karena yang bisa mengambil hanyalah orang yang memasangnya..”
“Bagaimana mengambilnya, Mbah?” tanyaku bodoh.
“Yah, kira-kira sama seperti waktu memasangnya. Harus dalam keadaan.. orgasme. Tidak susah kan, Mbak, wong cuma tidur telentang sebentar dan merasakan kenikmatan?” lagi-lagi Mbah Purwo menggodaku sambil tersenyum nakal.
Aku tersipu-sipu.

Mbah Purwo masih melanjutkan, “Atau kalau Mbak Surti sewaktu-waktu tidak tahan dan cuma butuh kenikmatannya saja, boleh kapan saja datang ke sini. Pasti saya layani tanpa resiko kehamilan dan tak perlu bayar he.. he.. he..”
“Sudah.. sudah, Mbah, saya tahu. Sekarang saya mau pulang,” aku memutuskan obrolan ngeresnya.
“Ini obat penyembuh rasa sakitnya tadi, sekaligus pencegah kehamilan. Diminum dua kali sehari selama tiga hari,” diberikannya enam butir kapsul padaku dan sebungkus kain hijau.

“Bungkusan hijau ini gantungkan di atas pintu kamar. Bila Mbak berdiri di bawahnya, maka otomatis guna-guna Pak Kosim atau yang sejenisnya, pokoknya yang berkaitan dengan rangsangan birahi, akan tidak mempan dan hilang.”
Aku pun pamit pulang setelah menerima benda-benda itu, dan memberikan selembar puluhan ribu pada Mbah Purwo. Hampir jam 11 waktu itu, berarti sekitar dua jam aku di ruang Mbah Purwo. Dan mungkin satu setengah jam lebih kami habiskan waktu di bilik kecil itu.

Oh.. bisakah kejadian dengan Mbah Purwo ini disebut guna-guna juga? Nyatanya toh aku melayaninya dalam keadaan sadar tanpa paksaan. Aku juga tidak disuruhnya minum atau makan pemberiannya yang mungkin dicampur obat perangsang. Apa benar nafsu syahwatku memang sangat besar? Seingatku dulu aku juga melakukannya dengan suamiku secara wajar-wajar saja. Seminggu tiga atau empat kali. Apa mungkin aroma harum di bilik kecil itu merupakan bau-bauan perangsang? Aku tidak sempat berpikir lebih lama, karena si tukang ojek kelihatan sudah menjemput datang. Aku bergegas pulang.

Hari-hari berlalu seperti biasa. Aku sudah kembali melakukan pekerjaan rutin mencuci. Penghasilan dari mencuci cukuplah untuk kehidupanku sehari-hari, bahkan kadang lebih. Lebihannya ini kutabung di bank. Kadang Basuki, anakku lelaki, mengirimiku beberapa puluh ribu rupiah, ini pun kutabung. Sementara Nina yang gajinya lebih kecil belum bisa mengirimiku. Aku maklum akan hal ini. Bekerja di Tangerang dengan standar hidup seperti Jakarta pasti memerlukan biaya besar. Untuk makan, bayar kost, dan keperluan hidup sehari-hari pasti menghabiskan sebagian besar gajinya.

Aku hanya berharap mereka dapat menimba pengalaman sebanyak-banyaknya dengan bekerja di kota besar.
Aku hanya berpesan pada Basuki dan Nina, “Kalau berhasil, kalian akan mencapai hidup lebih baik di sana. Kalau toh gagal, jangan malu untuk pulang, karena pengalaman yang didapat dari bekerja di kota besar dapat digunakan di sini.”

Hari ini aku mendapat surat dari Nina. Ya, dia memang lebih sering menulis surat dibanding kakaknya. Maklum anak laki suka malas menyurati. Paling Basuki hanya titip salam lewat surat Nina. Ini pun bagiku sudah cukup. Asal mereka sehat dan bahagia, senanglah aku. Tentu saja dalam surat balasanku selalu kuceritakan kesehatanku dan hal-hal lain yang baik-baik, supaya mereka pun senang dan tidak kuatir dalam bekerja. Sedangkan kejadian memalukan dengan Pak Kosim, ketiga pemuda dan Mbah Purwo tidak pernah kusinggung-singgung. Biarlah peristiwa itu kusimpan menjadi rahasiaku sendiri.

Meski demikian, dalam hati kecilku sebenarnya masih ada rasa penasaran untuk mencoba keampuhan penangkal Mbah Purwo. Enam butir kapsul yang diberikannya padaku dulu memang telah terbukti kemanjurannya. Bahkan pada hari kedua setelah kuminum, tubuhku sudah segar kembali. Dan haidku bulan ini juga lancar seperti biasa. Aku memang pernah kuatir terjadi kehamilan setelah pengalamanku dengan Pak Kosim. Apa jadinya kalau janda sepertiku yang baru ditinggal suaminya tiga bulan hamil? Pasti akan sangat memalukan. Pasti aku akan dikucilkan masyarakat. Untunglah kapsul pemberian Mbah Purwo sangat mujarab.

Sekarang yang masih ingin kubuktikan adalah penangkal berbungkus hijau yang sudah kugantung di atas pintu kamar. Katanya ini akan menangkal guna-guna yang sifatnya perangsang birahi. Sudah sebulan lebih sejak kudapat penangkal itu ternyata Pak Kosim tidak lagi mengguna-gunaiku. Aku tahu ini karena aku tidak pernah lagi terbangun di tengah malam dengan tubuh kepanasan.

Berkali-kali aku ke rumah Pak Kosim mengambil cucian atau mencuci di sana, dan ia nampak wajar-wajar saja. Apa mungkin karena anak-istrinya di rumah maka ia tidak mengguna-gunaiku lagi? Aku jadi teringat, dari dua kali pengalaman diguna-gunai, selalu rumah dalam keadaan sepi. Hanya ada Pak Kosim seorang diri. Istri dan anaknya sedang pergi.
“Akan kutunggu sampai mereka pergi,” pikirku ingin mencoba.

Dan saat itu pun tiba ketika hari itu aku mengantar cucian dan bertemu Bu Kosim.
“Mbak Surti, maaf ya, besok pagi libur dulu karena saya dan anak-anak akan pergi ke luar kota berlibur selama tiga hari. Di rumah tinggal Bapak sendiri, jadi cucian cuma sedikit. Nanti saja sekalian diambil kalau kami sudah kembali,” ujarnya.
Aku pun mengiyakan.

Maka kumasuki hari-hari berikutnya dengan penuh kewaspadaan. Dua hari berlalu tanpa terjadi apa-apa. Baru pada hari ketiga malam, mendadak aku terbangun di tengah malam dengan mandi keringat.
“Inilah saatnya,” pikirku.
Kubiarkan beberapa lama keadaan itu sebelum aku melangkah keluar kamar. Kusiapkan beberapa perlengkapan yang sengaja akan kubawa untuk memerangkap Pak Kosim.

Setelah merasa siap, aku pun berjalan keluar kamar. Tepat di ambang pintu, aku berhenti di bawah bungkusan penangkal yang pernah diberikan Mbah Purwo dan.. benar saja, perlahan-lahan tubuhku seperti ditiup kipas angin. Sejuk menyegarkan dan dengan cepat mengeringkan keringatku, sehingga suhu tubuhku pun normal kembali. Aku pun semakin yakin akan keampuhan penangkal Mbah Purwo. Namun sesuai rencanaku, aku tetap berjalan menuju ke rumah Pak Kosim dengan membawa beberapa perlengkapan yang kusembunyikan di saku daster. Aku ingin memberi pelajaran pada Pak Kosim supaya ia tidak mengulang perbuatannya lagi. Sengaja kulalui jalan yang sama yang pernah kulewati dua kali.

Sebelum sampai, dari kejauhan sudah kulihat Pak Kosim tengah berdiri di depan pintu rumahnya. Langkahku pun semakin yakin. Dengan ekspresi pura-pura terkena guna-guna, kudekati rumah itu.
“Mari, silakan masuk, Surti,” sambut Pak Kosim seperti biasa sambil membuka pintu.
Tanpa bersuara aku masuk lalu menunggunya hingga selesai mengunci pintu. Setelah itu kuikuti dia ke kamarnya.

Ketika dia memberikan segelas teh manis, meski semula ragu-ragu, kuteguk habis juga. Benar saja, sebentar kemudian aku merasa birahiku mulai meronta minta pemuasan. Bersamaan dengan itu kurasakan pula rasa kurang enak di bawah pusarku seperti hendak menstruasi. Maka aku teringat kalau penangkal Mbah Purwo pasti sedang bekerja. Oleh karenanya aku pun bertahan sebisa mungkin untuk tidak dikuasai pengaruh jahat minuman Pak Kosim. Hanya dua menit gejolak itu mereda dan hilang sendiri.

Dalam hati aku semakin salut pada penangkal Mbah Purwo. Lalu mulailah Pak Kosim minta aku memijatnya. Aku pun pura-pura mematuhinya sambil mengamat-amati situasi. Juga ketika ia menyuruhku membuka daster, ini pun kuturuti. Supaya dia lebih terlena aku memijat dengan duduk setengah bugil di atas punggungnya. Aku harus tahan malu untuk membuka kedoknya. Toh hanya kami berdua yang tahu peristiwa ini.

“Silakan tidur dulu, Pak,” bisikku ke dekat telinganya.
Ia hanya manggut sedikit, lalu memejamkan matanya. Nampaknya kali ini Pak Kosim tidak terburu-buru lagi. Ia merasa dirinya sudah cukup pengalaman dan dapat mengatur waktu kapan harus membawaku ke bawah pohon itu selagi aku tertidur.
“Biar cepat tidurnya matanya ditutup ya, Pak,” bisikku lagi.
Ia tak bereaksi. Perlahan kuambil kain hitam yang sudah kusiapkan.

Sambil memijit-mijit pelipis dan keningnya, kututup mata Pak Kosim. Ia tersenyum merasakan ulahku. Mungkin menganggapku sedang bermain-main. Diam-diam kuambil cairan pewarna dari saku daster yang kuletakkan di dekatku. Sambil tetap memijit, tanganku asyik pula melumuri punggung Pak Kosim dengan pewarna merah itu. Kalau sudah kering, dalam waktu berhari-hari berulah pewarna itu bisa hilang. Di bagian punggung yang sulit terjangkau tangan kutulisi “Ini bukti aku main serong”. Aku ingin hal ini menjadi bukti di depan istrinya nanti kalau Bu Kosim sudah pulang.

Posted in Indo Naked, snsdlover | Tagged , , , , , , , , , , , , | Comments Off on Memusnahkan Guna-guna Pemikat Sukma 03