Cewe Semok, Di Entot Ewe, Hots Banget

Foto Bugil Cewek Amoy Masih Belasan Tahun (56).slut Shows off Tits & Boobs_WM

Foto Bugil Cewek Binal Lagi Colok Memek (4).Cristin Milioti naked_WM

Foto Bugil Cewek Bispak Cantik Bening Mulus Banget (6).Risa Kudo Summers call for Sex_WM

Foto Bugil Cewek Bispak Mahal Cantik Body Mulus (14).Naughty Asian Teen Fucking Pussy_WM

Foto Bugil Cewek Cabe Cabean Toket Gede (2).Foto Bugil Artta Ivano ,memek artis indonesia_WM

Foto Bugil Cewek Cantik dan Toge (Bening) Part 1 (4)_WM

Foto Bugil Cewek Cantik dan Toge (Bening) Part 4 (3)_WM

Foto Bugil Cewek Chinese Cantik (1)_WM

Foto Bugil Cewek Jepang Cantik Mulus Banget (8).Cristina Scabbia nude_WM

Foto Bugil Cewek Lokal Paling Hot Edisi Terbaru (2).memek spg_WM

Posted in Cewek Bugil, snsdlover | Tagged , , , , , , , , , | Comments Off on Cewe Semok, Di Entot Ewe, Hots Banget

Iswani 2: Kebersamaan – 2

Foto Bugil Ariel Tatum (2).Hansika Motwani Naked Fakes_WM

Foto Bugil Artis Cantik Alessia Cestaro (1).Foto Bugil Aura Kasih ,memek artis indonesia_WM

Foto Bugil Ayam Kampus Cantik Pamer Toket Besar (2).memek Nafa Urbach_WM

Foto Bugil Barat Pamer Memek Lebar (1).Coco Lee nude_WM

Foto Bugil Barat Sedang Colok Memek (10).Cote de Pablo fake_WM

Foto Bugil Bule Pamer Memek Berjembut Lebat (8).Courtney Thorne-Smith naked_WM

Foto Bugil Cewek Abg Pamer Bulu Memeknya Yang Lebat (3).Bipasha Basu Nude Fakes_WM

Foto Bugil Cewek Abg SMP Bokingan (7).Anushka Sharma Nude Fakes_WM

Foto Bugil Cewek Amoy Masih Belasan Tahun (17).Ameesha Patel Nude Fakes_WM

Foto Bugil Cewek Amoy Masih Belasan Tahun (36).Aamna Shariff Nude Fakes_WM

Cerita Sex So sexy. So hot.Related image with ceritasexmemek is so hot imgur. Carmen Electra – el álbum del Club de Fans, memek abg fan club

Dari bagian 1

Rasa lapar membangunkanku, kulihat Iswani menonton TV dengan memakai daster.
“Mbak jam berapa ini?”, tanyaku padanya.
“Sudah jam 9 malam”, jawabnya.
“Yuk cari makan malam!”, ajakku padanya.
“Buka saja bungkusan itu, tadi sudah kubelikan, makan aja sendiri, aku sudah”, kata Iswani.
“Tumben, Mbak kok baik banget, makasih ya”, kataku memujinya sambil membuka bungkusan makanan yang berisi nasi sambal dan ayam goreng.
Karena sangat lapar maka aku makan dengan lahap dan cepat bak orang rakus. Setelah habis baru kurasakan pedasnya menempel di bibir tak mau segera hilang.
“Ssh huah, kok pedes banget sih Mbak, sambel apa itu tadi?”, tanyaku penasaran.
“Cuma sambel biasa, masa pedas sih, tadi aku tambahin semua sambalku ke bungkusanmu, kukira kamu suka pedas”, jawab Iswani sambil tertawa.
Kucoba gosok gigi dan mendekatkan bibirku dengan lubang keluarnya angin dari AC untuk segera menghilangkan rasa pedas dibibirku juga tak berhasil. Iswani yang melihat tingkah polahku semakin tertawa. Karena jengkel aku keluar kamar dan merokok diluar, pasrah dengan keadaan bibirku yang masih kepanasan.

Satu jam mengangin-anginkan bibir di teras kamar, aku merasa lebih baik. Kembali ke kamar kulihat Iswani masih rebahan di ranjangnya melihat acara TV. Melihat botol aqua yang masih ada isinya diatas meja kamar, aku jadi teringat vitamin C yang ada di tasku. Kuambil sebutir vitamin C dari dalam tas lalu kuambil gelas dan kumasukkan vitamin tersebut kedalamnya setelah kutuangkan aqua.
“Kamu minum apa Tok?”, tanya Iswani ingin tahu.
“Vitamin C Mbak, mau?”, tanyaku kembali sambil menenggak habis vitamin C-ku.
Iswani hanya menggelengkan kepala tanda tak berminat. Tergoda oleh panggilan kasurku yang kosong, aku segera merebahkan diri keatasnya dan kutarik selimutku.
“Keterlaluan kamu Tok, baru bangun sudah mau tidur lagi!”, komentar Iswani.
“Habis mau apa lagi Mbak jam segini, jalan-jalan juga sudah sepi, toko-toko sudah tutup, pasar juga belum buka”, jawabku santai.
“Ya ngobrol ini itu kan bisa!”, jawab Iswani serius.
“Mbak, ngobrol itu makanan apa? bahannya dari apa?”, tanyaku bercanda.
Bukannya menjawab Iswani malah melompat ke ranjangku yang hanya berjarak setengah meter dari ranjangnya dan tepat berada sisi kiriku. Iswani memasukkan tubuhnya kedalam selimutku dan meremas batang kemaluanku dengan tangan kirinya.
“Mau tahu ngobrol? Eh gemas aku sama kamu, diajak ngomong serius malah bercanda”.
“Aduh, Mbak jangan diremas nanti bisa putus”, cegahku.

Kedua kaki Iswani mengapit kaki kiriku dan wajahnya tepat dimuka wajahku hingga bibirnya berada hanya bebera sentimeter dari bibirku. Pandangan matanya menembus tatapanku menggugah gairahku. Hembusan nafas beratnya sangat terasa oleh bibirku. Tangan kananku yang bebas meremas payudaranya yang masih tersimpan dalam daster tanpa memakai BH. Serangan balasanku dibalasnya dengan memasukkan tangannya kedalam celanaku dan menggegam erat batang kemaluanku. Bibirnya mencumbui bibirku dibarengi dengan hisapan dan permainan lidah. Iswani juga menggeser-geserkan daerah kemaluannya pada paha kiriku. Tanganku melepas cengkeraman pada payudaranya lalu melepas kedua kancing depan dasternya hingga terbukalah kedua payudaranya. Kupindahkan cumbuanku dari bibir ke leher dan akhirnya ke payudaranya. Kukulum kedua punting susunya bergantian.
“Oh.. Tok, ayo lepas pakaianmu”, desah Iswani.
Dalam sekejap tubuhku kubuat bugil, Iswanipun demikian meski masih berlindung terlentang dalam selimutku. Akupun kembali masuk kedalam selimut. Dan dalam kegelapan selimut, kucumbui seluruh tubuhnya hingga terhenti didaerah kemaluannya yang sudah agak basah. Hisapan dan jilatan lidahku menghujani seluruh bagian kemaluannya. Terobosan lidahku masuk ke liang kenikmatannya.
“Mmh.. ah.. ssh..”, terdengar suara Iswani pelan.
Disingkapnya selimut yang menutupiku dan ditarik-tariknya kepalaku kearah lobang kenikmatannya yang terdalam.
“Tok,..”, desah Iswani dengan otot-otot paha menegang lalu tubuhnya menggelinjang dan akhirnya terlentang lemas.

Dengan posisi agak duduk bertumpu dengan kedua lutut, kugenggam kedua pergelangan kaki Iswani keatas lalu kuletakkan diatas pundakku sampai pantatnya agak terangkat. Dengan posisi kaki Iswani pada pundak kumasukkan batang kemaluanku yang berdiri tegang kedalam lobang kemaluannya. Dengan mudah batangku masuk seluruhnya kedalam liang kenikmatannya dan rasanya sampai diubun-ubun. Satu dua gerakan maju mundur pelan kuteruskan dengan puluhan gerakan maju mundur cepat dan semakin cepat. Terus dan terus.. hingga Iswani mengerang. Kuhentikan gerakanku dan kuturunkan kedua kakinya terlentang diatas ranjang tanpa mencabut batang kemaluanku dari lobang kemaluannya. Dengan posisiku yang masih sama kupegang erat pinggulnya dengan tangan kiri. Dengan gerakan mundur pelan kulepas batang kemaluanku dari vaginanya. Tangan kananku kupakai untuk mengarahkan penisku kembali memasuki vaginanya.

Kubuat gerakan maju mundur lagi tapi kini hanya ujung penisku saja yang keluar masuk lobang kenikmatannya. Kutambah kecepatanku setahap demi setahap dan sesekali kubenamkan seluruh batang kemaluanku sedalam-dalamnya. Pantat Iswani ikut mengimbangiku dengan gerakan naik turun menginginkan tancapan batang kemaluanku lebih dalam lagi. Sedikit demi sedikit kurebahkan dadaku menindih payudaranya. Kedua kaki Iswani yang terlentang diapitkan pada ke kedua kakiku yang berada diatara kedua kakinya. Kuncian kakinya pada kakiku turut membuat otot-otot kemaluannya terasa mengapit penisku. Gesekan kulit penisku dan dinding kemaluannya menghasilkan efek rangsangan yang luar biasa. Sambil terus menggerakkan pinggulku kucumbu lehernya, kuhisap, dan kukulum telinga kirinya. Puncak demi puncak dicapai Iswani dengan beberapa cara yang berbeda-beda.

Melemasnya Iswani membuat kuncian kakinya pada kakiku terbuka. Kubuka kakiku hingga terlentang untuk ganti mengapit kedua kakinya. Manuverku ini membuat lubang vaginanya menyempit seakan-akan mencekeram batang kemaluanku. Cumbuan bibirku pada bibirnya terjadi tanpa terelakkan. Bibir bertemu bibir, lidah bertemu lidah dan hisapan disambut hisapan. Kedua tangannya memelukku erat-erat. Payudaranya merangsek dadaku. Gerakan naik turun pinggulku diimbanginya dengan serasi. Tanpa bisa kutahan lagi, sebuah denyutan terasa di penisku, meletuslah puncak kenikmatanku. Seketika itu lepaslah cumbuanku padanya. Dengan sisa tenaganya Iswani makin erat memelukku sambil membuat gerakan bak cacing kepanasan demi mengejar puncakku. Otot-ototnya menegang hebat mengundang denyutan-denyutan susulan dari penisku dan disambut dengan meriah oleh gelinjang tubuhnya. Meskipun tubuh kami berdua sudah tak bertenaga namun penisku tak segera ingin meninggalkan liang kenikmatan Iswani. Sisa-sisa denyutanku rupanya masih ditunggu hingga terkuras habis. Setelah mencabut penisku dari lobang vagina Iswani, aku terlentang disampingnya tertidur kelelahan hingga pagi, begitu pula Iswani.

Pagi sekali aku sudah bangun, kulihat Iswani masih tertidur pulas. Setelah membasuh muka, gosok gigi dan berpakaian, aku keluar kamar untuk jalan-jalan disekitar penginapan sambil menghirup udara pagi kota Banjarmasin. Kabut tipis masih menyelimuti beberapa permukaan jalan. Setengah jam kemudian aku balik ke penginapan. Sampai di penginapan aku menuju ke kafetaria untuk melakukan ritual pagiku, yaitu kopi panas dan sebatang rokok. Selesai ngopi aku kembali ke kamar, kulihat Iswani mulai terbangun.

Dengan mata yang yang masih terpejam Iswani bertanya, “Jam berapa Tok?”
“Baru jam 6 Mbak, tidur lagi aja”, jawabku.
“Sini Tok, temanin aku”, ajak Iswani dengan nada manja.
Ajakannya benar-benar menggoda karena kulihat tubuh Iswani terlentang telanjang dibalut selimut sehingga lekuk-lekuk tubuhnya yang elok masih dapat kuamati. Kuperhatikan Iswani belum juga mampu membuka matanya tapi gerakan tubuhnya menunjukkan kalau ia sudah tidak dapat tidur lagi. Gerakannya kekiri dan kekanan yang entah disengaja atau tidak menyingkap sebagian selimutnya. Pahanya yang putih mulus terpampang jelas oleh penglihatanku.

Mencoba tak tergoda aku membuka sedikit korden jendela untuk melihat-lihat pemandangan luar kamar.
“Diluar ada apa Tok?”, tanya Iswani membuka sebelah matanya.
“Ada pemandangan bagus Mbak, ternyata di penginapan ini ada pelayan cewek yang cakep”, jawabku bercanda.
Buk, sebuah bantal melayang tepat mengenai belakang kepalaku dan menghantukkannya ke kusen jendela.
“Aduh, pagi-pagi kok buat perkara”, kataku dengan memegang hidungku yang agak kesakitan setelah terhantuk kusen jendela.
“Memangnya ada apa?”, tanya Iswani tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Nih hidungku nabrak kusen”, jawabku jengkel.
“Siapa yang suruh menabrakkan hidung ke kusen?”, jawab Iswani santai.
Kuambil bantal yang mengenai kepalaku dan berjalan ke ranjang Iswani, sambil berkata, “Gara-garanya bantal yang Mbak lempar ke saya”, kataku sambil menunjukkan bantal tersebut.
Menatapku dengan senyum nakal, Iswani menarik bantal yang masih kupegang erat hingga aku terjerembab ke arahnya kehilangan keseimbangan karena tak mengantisipasinya. Tubuhku terjatuh menindih tubuhnya yang masih terbalut selimut.
“Aduh, apa-apaan Mbak”, tanyaku dengan mulut tepat diatas mulutnya.
“Terus maumu apa?”, tantangnya dengan napas berat sambil memegang kepalaku dengan kedua tangannya.
“Apa-apa mau”, balasku menggoda.
Dengan serta merta Iswani menarik kepalaku dan mencumbu mulutku. Sambutanku tak kalah cepatnya, kuimbangi cumbuannya bagaikan adegan foreplay dalam film-film biru.

Dalam pengaruh rangsangan nafsu yang hebat, otakku memberi komando pada kedua tanganku untuk terjun pada daerah pegunungan yang berselimut. Diikuti oleh gerakan gerilya kedua tanganku memberi serangan frontal dengan remasan-remasan pada payudara Iswani. Serangan kilat yang kulakukan membuat Iswani terbelalak. Tanpa melepas ciuman antar mulut, Iswani melakukan serangan balasan. Dua tangannya melepaskan kepalaku dan bergerilya mengusap punggungku dan terus melaju ke bawah. Kedua tangannya dengan mudah menyusup masuk kedalam bagian belakang celanaku dan meremas-remas pantatku. Tak cukup dengan meremas pantat, beberapa jarinya juga menekan-nekan daerah sensitif di daerah selakangan. Saat ini batang kemaluanku sudah mengeras bagai moncong meriam yang siap menembakkan mesiunya setiap saat. Khawatir akan kehabisan peluru saat perang sesungguhnya terjadi, maka kuajukan genjatan senjata dalam bercumbu. Ternyata ajakanku diterima tanpa syarat.

“Ayo Tok cepat lepas pakaianmu!”, perintah Iswani.
Dalam sekejap akupun telanjang bulat. Dan dalam kejapan berikutnya kutarik selimutnya, kutindih badannya dan kutangkap kedua pergelangan tangannya dengan kedua tanganku. Dengan sekuat tenaga aku berusaha memegang tangannya terlentang keatas kepalanya. Batang kemaluanku kugesekkan pada daerah kemaluannya yang telah licin. Dadaku menindih dan bergesek pada kedua payudaranya seirama dengan gerakan bagian bawah perutku. Ciuman yang disertai hisapan mulutku pada daerah lehernya menghasilkan desahan dan erangan. Iswani membuka kakinya makin lebar membuat lobang kenikmatannya lebih terbuka bagi batang kemaluanku. Dengan usaha beberapa kali akhirnya batang kemaluanku dapat memasuki lubang kenikmatannya tanpa bantuan tanganku ataupun tangan Iswani.

Seiring dengan masuknya batang kemaluanku menuju liang kenikmatannya, timbullah rasa nikmat pada sekujur tubuh kami berdua. Jari-jari kedua tanganku terbuka, lepaslah genggamanku tapi jari-jari kedua tangannya mengisi ruang diantara jari-jariku hingga bersatu saling genggam. Sementara itu bagain bawah tubuhku membuat gerakan maju mudur dan keatas kebawah. Sesekali kuhentikan gerakanku dan Iswani menggantikannya dengan menggerakan pinggulnya berputar. Selang beberapa waktu kedua kakinya mengunci kakiku, kupandang wajahnya dengan mulut terbuka menghembuskan nafas-nafas berat pada bibirnya. Seolah menembus batas birahiku, tatapan matanya yang beradu pandang denganku mendorong ledakan klimaksku yang tak dapat kubendung. Cairan hangat yang keluar dari batang kemaluanku menerjang dinding liang kenikmatannya dan mengundang klimaksnya. Diikuti oleh tubuh Iswani yang mengejang dalam bebera saat, muncullah beberapa denyutan dari batang kemaluanku. Berangsur-angsur tubuhku terasa lemas dan lunglai dalam dekapan tubuh Iswani. Sebuah ciuman kulayangkan pada bibirnya sebelum menarik tubuhku dan terlentang disebelahnya. Terlelap beberapa waktu kudengar gemericik suara shower dari kamar mandi.

Semerbak bau harum sabun mandi menyebar dalam kamar menerpa hidungku dan membangunkanku dari pembaringan ketika Iswani keluar dari kamar mandi. Kamar mandi yang ditinggalkan Iswani segera kumasuki. Selesai mandi kudapati Iswani tengah bersolek mengenakan kaos lengan panjang warna merah menyala dan celana jeans yang ketat. Kupandangi tingkah laku Iswani sambil berbaring santai diatas ranjangku.
“Mbak, bisa cakep seperti itu makan apa saja sih?”, tanyaku penasaran melihatnya.
Sambil memasukkan alat-alat pesoleknya, ia menjawab dengan senyum genit, “Kan habis makan kamu”.
“Pagi ini aku udah habis Mbak, terus mau makan apa lagi?”, tanyaku lagi.
“Aku juga udah kenyang kok”, jawabnya santai sambil membongkar sebagian isi tasnya.
Tak lama kemudian Iswani memasukkan semua barang yang dibelinya di pasar kemarin kedalam tasnya.
“Tok, pagi ini aku mau ketempat saudara-saudaraku yang ada di Banjar Baru, mungkin sampai sore dan nanti malam kita bisa ketemu lagi, kamu masih mau nginap disinikan malam nanti?”, tanya Iswani dengan menutup tasnya.
“Aku juga mau putar-putar kota Banjarmasin, paling-paling sore sudah balik, tapi malamnya aku mau cari makanan yang khas”, jawabku.
“Kalau gitu berapa nomer HPmu, biar kusimpan dalam HPku? Andaikata aku balik sini kamu masih jalan kan bisa kususul”, tanya Iswani dengan memegang HPnya.
Setelah kuberitahu nomer HPku pada Iswani, aku baru teringat kalau HPku kumatikan sejak berangkat dari tempat pemberangkatan bus di Balikpapan. Kuambil HPku dari saku jaket dan beberapa detik setelah kunyalakan sebuah panggilan terdengar.
“Ini nomernya Mbak?”, tanyaku padanya sambil kuperlihatkan nomer yang muncul di HPku padanya.
“Iya”, jawabnya singkat lalu berkemas dan keluar dari kamar tanpa mengucapkan kata pamitan.
Tak lama kemudian Iswani menghilang dari pandangan jendela kamarku.

Ke bagian 3

Posted in Indo Naked, snsdlover | Tagged , , , | Comments Off on Iswani 2: Kebersamaan – 2

Iswani 2: Kebersamaan – 1

Foto Bokep Cewek Jepang Ngentot Foursome (15).Claudia Schiffer fake_WM

Foto Boneka Cukur Jembut Memek Wanita (1).Claudia Schiffer nude_WM

Foto Bugil 3 Cewek Di Puncak Villa (5).Preity Zinta nude fakes_WM

Foto Bugil Abg 12 Tahun Masih Ijo Royo Royo (10)_WM

Foto Bugil Abg Bispak Bisyar Pamer Memek Paling Hot (2).memek indonesia_WM

Foto Bugil Abg Cantik di Atas Motor Jupiter MX (8).Madhuri Dixit nude fakes_WM

Foto Bugil ABG SMA Belajar Jadi Model Dewasa (3).Lara Dutta nude fakes_WM

Foto Bugil Abg SMP Diatas Genteng (2).Karishma Kapoor naked fakes_WM

Foto Bugil Alexandra Gottardo (1).Kajal Aggarwal leaked naked fakes_WM

Foto Bugil Amel Alvi Tanpa Sensor, model bugil crot (10).Ami Ayukawa memek_WM

Cerita Sex So sexy. So hot.Related image with ceritasexmemek is so hot imgur. Carmen Electra – el álbum del Club de Fans, memek abg fan club

Cerita ini adalah lanjutan dari cerita “Iswani 1: Pertemuan Pertama” yang telah dimuat sebelumnya.

*****

Turun dari bus diikuti oleh Iswani tepat dibelakangku, kulihat jamku menunjukkan 8.45. Bergegas menghindar dari calo-calo angkutan umum dan ojek, kearah warung di pinggir terminal lalu duduk sambil memesan kopi panas. Setelah duduk baru aku sadar bahwa Iswani tertinggal agak jauh dan berjalan menuju tempatku dengan agak kesulitan karena tasnya kelihatan berat.
“Tok, gimana sih kamu kok ninggal?”, kata Iswani dengan nada tinggi.
“Bantu bawain tasku juga nggak, kok malah lari!”, lanjutnya.
“Sorry Mbak, aku kan kepingin cepat-cepat minum kopi biar nggak keburu pusing”, sangkalku dengan santai sambil tersenyum kecut.
“Ah, alasan aja kamu, malu ya jalan sama aku?”, tanya Iswani.
“Nggak, malah senang kok Mbak, seperti punya pengawal pribadi”, candaku.
“Eh, enak aja! Habis ini pokoknya kamu bantuin bawa tasku ya!”, dengan nada memaksa.
“Lho Mbak, terus tasku siapa yang bawa?”, tanyaku dengan lagak bodoh.
“Ya kamu bawa sendiri!”, jawabnya bernada cuek.
“Wah capek Mbak!”, rengekku menggoda.
“Gampang, nanti kupijitin, gitu aja kok repot!”, jawab Iswani dengan keras dan bersungut.

Bagai tersambar petir atas reaksinya aku terdiam agak lama, beruntunglah kopiku segera tiba dan kusibukkan diriku dengan kopi panas sambil menghisap rokok. Sementara itu Iswani memesan teh panas dan menuju wastafel lalu membersihkan muka, menyisir rambut dan bersolek dengan santai. Setelah tehnya datang ia kembali ke mejaku dengan wajah lebih segar dan tampak cantik.

Memandang wajah dan tubuhnya yang seksi, terbitlah lamunanku bermesraan dengannya. Bibirnya yang mungil menempel pada bibirku, saling bercumbu dan saling menghisap. Tanganku mengusap payudaranya yang menegang, jari jemariku merasakan puntingnya yang makin mengeras. Tak kuasa menahan godaan dari dadanya kulepaskan cumbuanku dan kuarahkan pada kedua payudaranya. Desahannya makin menjadi, tangannya mendorong kepalaku kearah lebih bawah lagi. Pelan tapi pasti, hisapan bibirku akhirnya sampai pada daerah kemaluannya. Bulu-bulu kemaluannya yang rimbun tak mampu menahan juluran lidahku menembus bibir vaginanya. Hisapan dan juluran lidahku yang bergantian menghasilkan pola rangsangan yang tak terbatas nikmatnya pada tubuh Iswani. Erangan dan desahannya bagaikan alunan nada yang membuatku semakin liar. Kedua kakinya semakin membuka, lidahku masuk semakin dalam, tarikan tangannya pada kepalaku semakin kuat untuk menahan bibir dan lidahku agar tak lepas dari lubang kenikmatannya.

Gelinjang di tubuh Iswani makin menjadi dan teriakan keras, “Oh..”, dan.. tenggelamlah lamunanku yang baru terbit oleh tendangan kaki Iswani pada kakiku.
“Ada apa sih Mbak pakai nendang-nendang segala?”, tanyaku jengkel.
“Diajak omong malah ngelamun. Setelah ini kamu kemana, Tok?”, tanya Iswani sambil minum tehnya.
“Cari penginapan di daerah Cempaka, Mbak!”, jawabku kalem.
“Mampir ke Pasar Antasari dan Pasar Baru dulu, ya!”, ajaknya.
Dengan mengangguk aku menghela napas panjang, dalam hati aku mengeluhkan ajakannya. Tapi rupanya Iswani dapat membaca raut mukaku.
“Kalau nggak mau, nggak apa-apa kok!”, katanya dengan nada tinggi lagi.
“Mau, mau Mbak, gitu aja sewot!”, godaku sambil tersenyum.

Keluar dari warung, kami berjalan menuju ke pangkalan angkutan umum. Kali ini aku berjalan dibelakang Iswani dan sering ketinggalan darinya karena selain membawa tasku sendiri aku juga membawa tasnya yang ternyata lebih berat dari dugaanku. “Ayo cepat, jalanmu kok loyo sih!”, ujar Iswani. Aku cuma bisa mengumpat dalam hati tanpa mengucapkan sepatah katapun karena tangannya segera meraih pergelangan tangan kiriku dan menariknya masuk ke angkutan umum.

Setelah sampai didepan Pasar Antasari kami turun dari angkutan umum. Kuikuti saja langkah Iswani tanpa menghiraukan apa yang dibelinya. Satu jam berputar-putar didalam pasar membuat bajuku terasa basah kuyup karena keringatku. “Yuk ke Pasar Baru, jalan kaki saja ya, dekat kok!”, kata Iswani padaku. Sambil melongo aku geleng-gelengkan kepala tak percaya pada pendengaranku, “Aduh Mbak, capek nih, apa Mbak belum pernah dimaki-maki orang bisu ya?”, umpatku padanya. Beruntung pasar lagi ramai sehingga dia tak seberapa mendengarkan umpatanku.

Berjalan menyisir jalanan kota Banjarmasin yang panas dan padat, kuikuti langkah Iswani menuju Pasar Baru. Lewat jembatan yang menyeberangi sungai besar kuhentikan langkahku karena kurasakan kesegaran angin sungai. Belum puas merasakan udara sungai, Iswani memanggilku, “Ayo Tok, cepatlah!”. “Sabar dong Mbak, lagi cari angin nih!”, jawabku sambil berjalan kearahnya. Sesampainya di Pasar Baru Iswani melanjutkan belanjanya. Keletihanku tertutupi oleh wajah-wajah cewek yang lalu lalang disekitarku. Tanpa kusadari ternyata caraku menatap cewek-cewek tersebut diperhatikan oleh Iswani. Cubitannya di tanganku membuatku terhenyak kaget, “Aduh, ada apa sih Mbak?”. “Ayo cari makan.”, jawabnya santai.

Setelah duduk di meja makan sebuah restoran seberang pasar, kuletakkan kedua tas dibawah meja, lalu kuusap-usap bekas cubitan Iswani di pergelangan tangan kiriku.
“Kenapa Tok? Panas ya?”, tanya Iswani padaku sambil tertawa.
“Mbak keterlaluan! Ngajak makan saja pakai nyubit”, gerutuku tanpa didengarkannya karena sibuk memesan makanan. Selesai makan Iswani mengajakku naik angkutan umum lagi untuk mencari penginapan. Sesampai didaerah Cempaka, kami turun.
“Mana Tok penginapannya?”, tanya Iswani.
“Masuk kejalan sebelah sana Mbak, angkutannya nggak lewat jalan itu”, jawabku.
“Jauh nggak? Aku udah capek dan ngantuk nih!”, kata Iswani.
“Aku sudah sejak tadi capek dan ngantuk!”, balasku.
“Aku nggak tanya!”, jawab Iswani dengan ketus lalu mempercepat jalannya.
Belum sempat membalas ucapannya terakhir, aku tergopoh-gopoh berusaha menyusulnya.

Sesampai di penginapan Iswani langsung menuju penerimaan tamu dan memesan sebuah kamar. Petugas penginapan yang agak curiga bertanya pada Iswani tentang aku. Dengan nada yang meyakinkan dikatakannya bahwa aku adalah adiknya. Dengan napas yang masih terengah-engah karena berjalan cepat dengan beban berat, aku mengannguk saja apa yang ia yakinkan pada pegawai penerima tamu. Akhirnya bualan Iswani menghasilkan sebuah kamar dengan 2 tempat tidur yang terpisah.

Bergegas masuk kamar lalu kuletakkan 2 tas yang membaniku, kemudian kulepas jaket, sepatu, celan jeans dan bajuku yang masih basah kuyup oleh keringatku. Dengan hanya ber-celana dalam kubaringkan badanku terlentang diatas ranjang menikmati sejuknya AC kamar. Di pojok ranjang yang satunya, Iswani duduk menatap bagian depan celana dalamku yang menonjol.
“Lihat apa Mbak?”, tanyaku mengagetkannya.
Menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah yang agak merah dia berdiri dan masuk ke kamar mandi. Rupanya Iswani mandi dengan singkat lalu keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang menutupi payudara sampai ke bagian paha. Tercengang oleh pemandangan tersebut, aku langsung tengkurap tak berani menatapnya. Kupikir dengan tengkurap tonjolan di celana dalamku dapat tertutupi sekaligus mengurangi daya tonjolnya karena melihat tubuh wanita molek lagi mulus walau berumur 35 tahunan.
“Kenapa Tok?”, tanya Iswani menggoda sambil mengaduk-aduk isi tasnya.
“Mbak, isi tasnya apa aja sih kok rasanya berat sangat”, tanyaku berusaha mengalihkan pikiranku dari tubuhnya.
“Pingin tahu aja!”, jawab Iswani sambil tersenyum.
“Bukannya gitu Mbak, tapi tasnya Mbak bikin leherku pegal”, kataku berkilah.

Tanpa menjawab lagi Iswani beranjak kearahku dan tanpa kusadari kedua tangannya sudah ada dipundakku. Tentu saja aku kaget karena tak mengira kalau dia sudah ada diatas punggungku. Belum habis rasa kagetku, cengkeraman kedua tangannya memijat pundakku tepat didaerah yang pegal hingga aku mengaduh.
“Aduh, Mbak! pelan-pelan..”.
Tanpa mendengarkan kata-kata dia tetap memijat tengkuk hingga punggungku. Otot-ototku didaerah tengkuk hingga punggung mulai melemas dan berangsur-angsur berkurang rasa sakit dari pijatannya. Pegal-pegal yang kurasakan mulai berkurang. Pijatannya bergerak kebawah ke arah pantat. Kedua pahaku bagian belakang diapit oleh pahanya.

Sensasi pergesekan kulitku dengannya bagai mencapai ubun-ubun. Bersamaan dengan itu ketegangan batang kemaluanku makin bertambah hingga bak dongkrak mengangkat pantatku. Pijatan Iswani mencapai titik-tik sensitifku, selakangan hingga paha bagian dalam. Jari jemarinya berusaha masuk kedalam celana dalamku untuk menyentuh langsung dan mencekeram otot-otot pantatku. Tak lama kemudian rupanya kesabaran Iswani habis, tanpa isyarat ia menarik celana dalamku hingga lepas sementara aku masih tengkurap keenakan. Beruntung senjataku masih tegang dan menekuk kearah perutku sehingga masih tak dapat langsung diraihnya. Tapi kedua bola kemaluanku benar-benar terbuka dan langsung menjadi sasaran jari-jemarinya yang lentik. Usapan-usapanya pada kantong bola kemaluanku hingga pangkal paha membuatku tak tahan. Jari jemarinya terus bergerilya dan akhirnya mendapatkan yang dimauinya.

Tanpa melawan kubalikkan badanku. Batang kemaluanku yang telah berdiri tegak menjadi bulan-bulanan cengkeraman kedua tangannya. Walau begitu pertahananku belum sepenuhnya hancur. Tanpa mengenal rasa lelah digosok-gosokkan kedua telapak tangannya pada batang kemaluanku, keatas-kebawah. Cairan semenku bagai pelicin yang mempercepat gerakan tangannya. Batas nafsu Iswani ternyata juga telah mencapai titik kritis. Dilepaskannya handuk yang membungkus tubuhnya. Terlihat kedua payudaranya yang berukuran cukupan itu tampak tegang dengan ujung yang sedikit mendongkak. Dengan hati-hati ia memegang batang kemaluanku untuk dimasukkan pada liang kenikmatannya. Usaha awalnya belum cukup memasukkan seluruh batangku. Kurasakan jepitan batangku oleh liang kenikmatannya yang belum licin benar. Ditariklah badannya sedikit keatas, sambil melempangkan kedua kakinya, ia menghujamkan kembali badannya hingga seluruh kemaluanku terbenam dalam kemaluannya yang diikuti oleh erangannya, Iswani kemudian membungkukkan badannya hingga kedua bibir kami dapat saling bercumbu. Kedua payudaranya menempel diatas dadaku.

Kedua tanganku mulai bergerak mengusap punggung hingga mencekeram kedua pantatnya yang bahenol. Sementara kedua lidah kami bertautan yang dibarengi dengan saling hisap, Iswani mulai menggerak-gerakkan pinggulnya. Kurasakan cairan pelicin alaminya mulai membasahi seluruh batang kemaluanku. Makin lama gerakan pinggulnya makin menjadi hingga terlepaslah cumbuannya. Dengan bibir yang masih membuka Iswani mengeluarkan desahan-desahan kecil seiring dengan gerakan pinggulnya. Kecepatan naik turun pinggulnya makin lama makin cepat. Ketika sampai puncaknya, gerak tubuh Iswani terhenti, semua ototnya menegang, tangannya mencekeram erat pundakku, gelinjang tubuhnya mulai kurasakan, liang kenikmatannya bagai meremas batang kemaluanku, cairan hangat dalam kemaluannya mulai terasa. Tak kuasa menahan sensasi kenikmatan yang diberikan Iswani padaku, akhirnya burungku ikut memuntahkan isinya dalam lubang kenikmatannya. Tubuh Iswani kini melemas dan lunglai diatas tubuhku, meski begitu denyutan dinding liang kemaluannya masih kurasakan hingga batang kemaluanku selesai melepaskan sisa-sisa isinya. Tanpa ada usaha melepaskan burungku dari lubang vaginanya akhirnya burungku yang sudah sangat lemas lepas dengan sendirinya.

Sambil terpejam, Iswani yang masih lunglai diatas tubuhku berkata, “Tok, aku tidur disini aja ya..”.
Tanpa menjawab kata-katanya akupun terlelap dalam pelukan Iswani. Satu jam lebih kami tidur dalam keadaan yang tak berubah. Panggilan alam membangukanku, kugeser tubuh Iswani kesampingku lalu kulepaskan genggaman tangannya pada tubuhku. Dalam keadaan bugil aku langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi tanpa menutup pintunya. Setelah buang air kecil, kusiramkan air hangat dari shower ke seluruh tubuhku. Membayangkan dengan mata terpejam dibawah siraman air hangat akan kejadian yang baru saja kualami, rasanya tak dapat kupercaya.
“Sini Tok, kumandiin”, kupandang suara Iswani tersebut sangat mengagetkanku hingga hampir-hampir membuatku terpeleset. “Aduh, Mbak ngagetin aja!”, kataku jengkel.
Dengan tubuh yang juga masih bugil ia mengambil sabun dan menggosokkan ketubuh bagian depanku.
“Mbak, Mbak, nggak usah, saya bisa mandi sendiri”, kataku.
Tanpa menghiraukan kata-kataku, ia menyabuni pangkal paha serta batang kemaluanku. Sebelum terjadi hal-hal yang kuinginkan tanganku bereaksi dengan meremas-remas payudaranya.
Kepalanya menengadah kearahku dan berkata, “Jangan Tok, aku masih capek..”.
Tanpa menghiraukan kata-katanya, bibirku sudah melumat bibirnya. Setelah melepas bibirnya, kuraih sabun ditangannya tanpa perlawanan dan ganti kusabuni payudaranya, pinggulnya, serta daerah kemaluannya. Sabun kuletakkan kembali pada tempatnya, kuusap seluruh tubuhnya dengan tanganku dibawah guyuran air hangat dari shower, lalu kumatikan showernya setelah tubuh Iswani bersih dari sabun.

Berhadap-hadapan, kuciumi tubuhnya mulai dari leher, dada, perut dan berhenti di daerah kemaluannya. Dengan pasrah kedua tangan Iswani memegang pipa ledeng diatasnya untuk menjaga tubuhnya agar tak terpelset. Kujongkokkan tubuhku hingga tepat dibawah daerah kemaluannya. Kujilati pangkal paha kirinya lalu bergerak ke paha kanan, bolak-balik, dan agak berlama-lama ditengahnya.
“Antok.. Oh.. oh..”, desahnya membuat perhatianku memusat pada vaginanya.
Kedua tanganku membuka bibir vaginanya dan kemasukkan lidahku sedalam-dalamnya. Ketika lidahku merasa lelah bibirku ganti bereaksi dengan menghasilkan hisapan-hisapan sensual.
“Mmh.. shh.. oh..”, desahan Iswani makin menjadi-jadi.
Lidahku terus bergerak dan mulai bermain-main dengan klistorisnya.
“Ahh..!”, erang Iswani.
Bibirku tak mau kalah, hisapan kecil pada klistorisnya membuatnya tergelinjang hingga hampir terpeleset. Tanganku yang sedari tadi mengusap-usap pantat dan pahanya mulai kualihkan perannya. Jari telunjuk tangan kanan mulai memasuki liang kenikmatannya dengan hati-hati. Tangan kanan Iswani melepas pegangannya dari pipa ledeng dan menarik kepalaku untuk masuk lebih dalam keliangnya. Akhirnya tubuhnya bergelinjang hebat, menegang dan kurasakan keluarnya cairan hangat dari dalam liang kenikmatannya di jari telunjukku.
“Aduh Tok, lemas nih”, nadanya memelas.
Kubantu ia berjalan keluar kamar mandi menuju ranjangnya. Setelah kududukkan, aku mengambil handuk dan mebersihkan sisa-sisa air di bagian depan tubuhnya. Lalu kuminta ia tengkurap untuk membersihkan bagian belakang tubuhnya.

Sewaktu mengusap bagian pangkal paha dengan handuk, kulihat tubuh Iswani mulai menikmatinya. Usapan handuk kuganti dengan usapan permukaan tanganku. Tanpa berpikir lagi, kuciumi bagian belakang tubuhnya untuk merangsangnya kembali karena burungku sudah tak sabar lagi. Entah berpura-pura atau tidak, Iswani masih tetap memejamkan matanya. Tapi ketika ciumanku sampai pada tengkuk leher sebelah kirinya, ia mengerang lemah. Bersamaan dengan itu batang kemaluanku yang telah berdiri tegak kutempatkan saling bergesaran dengan bibir vaginanya.

Kurasakan kehangatan pada burungku di dalam kamar yang sejuk oleh AC. Sensasi gesekan antar kulit merangsang keluarnya zat pelicin alami dari liang kemaluan Iswani.
“Jangan main-main Tok!”, kata Iswani yang sedikit mengejutkanku dan banyak membingungkanku akan maksudnya.
Bersamaan dengan keluarnya kata-kata tersebut Iswani mulai mengangkat sedikit tubuhnya dan bertumpu pada sepasang siku dan lututnya. Setelah kulihat lubang kemaluannya terbuka lebih lebar baru aku mengerti maksud kata-katanya. Langsung saja tanpa basa basi kumasukkan batang kemaluanku kedalam vaginanya lewat belakang. Dorongan pertama telah cukup membenamkan seluruh batang kemaluanku.
“Ahh..shh..”, desah Iswani.
Kupegang kedua pinggul Iswani lalu kubuat gerakan maju mundur yang semakin lama semakin cepat. Tak beberapa lama tangan kanan Iswani mengarah kebelakang dan menarik pinggulku agar berhenti pada doronganku yang terdalam.
“Ah..!”, ia menggelinjang tanda telah sampainya puncak kenikmatannya tapi aku masih dapat menahan puncakku.

Kulepas pegangan tanganku pada pinggulnya lalu bergerilya mengusap perut dan payudaranya. Kucoba kembali merangsanya dengan menumpangi bagian belakang punggungnya dengan dadaku. Kucium kembali tengkuknya dan kuhisap leher kirinya. Batang kemaluanku yang basah oleh cairan kehangatan Iswani mulai merasakan kembali gesekan-gesekan dengan dinding kemaluannya. Kali ini Iswani berinisiatif untuk menggerak-gerakkan pantatnya maju dan mundur. Kusambut pula dengan gerakan yang mendukung gerakannya. Dekapanku makin erat ketika mendekati klimaks.
Dengan napas berat kuucap bisikan lirih ditelinga kirinya “Mbak, aku mau keluar..”.
Tanpa bisa kutahan lagi, penisku mengeluarkan seluruh isinya. Dalam keadaan otot-ototku yang masih menegang kurasakan tubuh Iswani ikut bergelinjang. Kemudian kucabut batang kemaluanku dari liang kenikmatannya setelah menunggu beberapa saat. Setelah terbaring terlentang di samping Iswani yang tertelungkup, aku menghela napas panjang berulang kali.

Bangun dari pembaringan, aku bergegas ke kamar mandi. Kali ini aku tak lupa menutup pintunya. Setelah mandi dan berpakaian aku merasa segar untuk kembali ke ranjangku dan tidur dengan nyenyak.

Ke bagian 2

Posted in Indo Naked, snsdlover | Tagged , , , | Comments Off on Iswani 2: Kebersamaan – 1

Iryanti, Gadis Warnet

Foto Artis Jav Cantik Bugil Hot Abis (11).Christine Bleakley fake_WM

Foto Artis Jav Ngentot Threesome (12).cika lengkap_WM

Foto Artis Jav Ngentot Threesome Sampai Lemas (14).Citra Kirana artist indo_WM

Foto Ayam Kampus Cantik Pamer Tetek Dan Memek (9).cl naked_WM

Foto Ayam Kampus Pengen di Jilat Mekinya (2).melissacantik_WM

Foto Bahenol Aprilia Lagi Yoga Memek Tembem (1).Memang Paling Hot_WM

Foto Biduan Bugil Bispak Toge (3).Claire Cooper porn_WM

Foto Binal Janda lagi Nungging (1).memek asian_WM

Foto Blonde Doyan Lesbi (2).memek cewe_WM

Foto Blonde Sange Habis Liat Orang Mau Ngentot (2).Memek Gadis_WM

Cerita Sex : Iryanti, Gadis Warnet


CerSexMek

Namaku Rio, seorang dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, kisah yang akan kuceritakan ini terjadi saat aku masih bertunangan dengan istriku sekarang ini, dan terjadi berawal dari hal yang sama sekali tidak terduga sedikitpun olehku.Cerita Sex Terbaik Bulan February 2001 lalu aku mengantarkan kawanku Rudy ke bengkel Toyota di jalan ***(edited) Jakarta. Saat tiba di bengkel, sudah banyak mobil yang antri menunggu giliran.
Rudy tersenyum kepadaku dan bilang, “Sorry Yo.., kayaknya loe musti nungguin lama juga nih..”
Brengsek juga nih pikirku, biar tidak bosan, aku pergi ke warnet di dekat situ, persisnya di sebelah Soto Kudus, persis depan Danar Hadi.

Aku masuk, disambut oleh seorang cewek yang ternyata adalah yang bertugas menjaga warnet tersebut. Mulanya aku tidak begitu memperhatikannya, berhubung hatiku lagi kesal sekali sama ulah si Rudy tadi. Tapi ketika aku mulai meng-klik mouse dan sedang menunggu connect-nya internet, baru aku perhatikan bahwa cewek penjaga ini punya wajah cukup lumayan dan body yang oke juga. Terus terang, saat itu juga aku terpikat oleh penampilannya, aku jatuh hati pada “the way she look”.

Aku sibuk berpikir dalam hati, bagaimana cara aku berkenalan dengannya? Tapi mungkin memang takdir cara itu datang dengan sendirinya, cewek itu tidak lama kemudian membuka juga internet dan dia duduk persis di belakangku, jadi posisi kami saling memunggungi satu sama lain. Aku sempat menoleh ke belakang, dan kulihat dia membuka situs “mIRC”.
“Kayaknya dia mau chatting nih..,” pikirku.
Ternyata benar, dia mau chatting, dan aku sempat melihat kalau dia pake “nick” yanthie. Langsung saja aku masuk ke “mIRC” juga, aku call dia, eeh dia nge-reply.

Kami berkenalan, dan selama chatting itu dia sama sekali tidak sadar kalau Rio yang sedang ngobrol dengannya adalah cowok yang duduk tepat di belakangnya, hihihihi. Pas sejam aku selesai, aku bayar, aku pancing obrolan dengannya, aku tahu sekarang namanya “Yanti”, tepatnya “Iryanti”. Tampangnya benar-benar membuat aku bergairah.

Aku lalu keluar, pergi ke bengkel menemui si Rudy, mobilnya sedang dikerjakan. Aku pergi ke telepon kartu di bengkel itu, kutelepon penerangan “108”. Kutanyakan nomer telepon warnet itu, setelah kudapat langsung kutelepon, dan aku minta bicara dengan Yanti.

“Siapa nih..?” suara Yanti di seberang sana.
“Ini Rio, boleh saya kenal kamu..?” jawabku.
“Boleh aja, tapi kamu dapat nomer ini darimana..?” tanya Yanti lagi.
“Saya yang pernah main di warnet kamu..,” jawabku.
Dan Oh My God..! Tahu tidak Yanti bilang apa..?
“Kamu yang tadi chatting di belakang saya khan..?” katanya.
Mati aku, dia sudah tahu rupanya. Terlanjur malu aku mengaku saja, kalau itu benar aku, dan aku terpesona oleh penampilan dia, tapi aku malu untuk menegur disana, jadi aku pakai cara ini saja.

Yanti tertawa, enak deh suaranya, kuberanikan saja ingin menjemput dia, mau atau tidak. Katanya dia sore ini tidak bisa, karena cowoknya (yang akhirnya kuketahui namanya Joe) menjemput dia.
“Gimana kalau besok lusa aja..?” katanya.
“Oke aja..” kataku.

Jadilah lusanya aku tidak praktek, jam 17.00 tepat aku sudah sampai di warnet Yanti. Kami terus jalan deh. Di jalan, dasar pikiran nakalku sudah di ubun-ubun, aku tanya sudah berapa lama Yanti pacaran sama Joe, berapa kali pacaran, terakhir aku juga mengaku sudah punya cewek, terus aku tanya mau tidak Yanti jadi cewekku? Yanti kaget.
“Jadi Yanti ngeduain Joe donk Yo..?” tanyanya.
“Iya sama Rio juga ngeduain cewek Rio..” jawabku sekenanya.
“Nakal kamu Yo..” kata Yanti sambil mencubit lenganku.
“Naah.., kena nih cewek..!” pikirku.

Kutangkap tangannya, kupegang kuat, kuhentikan mobilku di depan sebuah bangunan sepi dekat Pasaraya Manggarai, kutarik Yanti ke arahku, kucium bibirnya, Yanti mendorong tubuhku.
“Hhhmmhh malu-malu kucing nih..” pikirku.
Terus kutarik tubuhnya sambil mengeluarkan kata-kata gombalku. Lama kelamaan Yanti tidak menolak lagi, dibalasnya ciumanku, dijulurkannya lidahnya, digigitnya bibirku, kusedot lidahnya, nikmat sekali, urat syarafku terangsang. Kuraba pahanya, terus ke selangkangannya, Yanti mendesah.

“Jangan Rio..” desahnya.
Aku berhenti, kuhidupkan mesin mobil, kuarahkan mobil ke hotel ***(edited) di jalan ***(edited) Jakarta Pusat, aku langsung parkir.
“Mau ngapain kita kesini Yo..?” tanya Yanti.
Aku tidak menjawab, kusuruh dia menunggu di mobil, aku masuk ke dalam, aku check in di kamar 104.

Setelah diantar ke kamar, kuhidupkan AC, lalu aku ke mobil.
“Yan, turun yuuk..!” kataku.
“Nggak tau ah, mau ngapain sih Rio..?” kata Yanti.
Lagi-lagi kukeluarkan jurus mautku, sampai akhirnya Yanti mau juga ikut masuk ke kamar. Di dalam kamar kubuka celana panjangku. Dengan hanya pakai handuk aku ke kamar mandi, saat aku keluar kulihat Yanti sedang nonton TV.

“Film apa sih Yan..?” tanyaku sambil duduk di sebelahnya.
“Sinetron..,” jawab Yanti pendek.
Kupandangi wajahnya, Yanti jengah juga dan bilang, “Ngapain sih ngeliatin gitu Yo..?”
“Kamu cantik..” rayuku.
“Rio pengen ciuman kayak tadi deh..” kataku.
Kutarik tubuhnya, Yanti diam saja, kuangkat dagunya, kupandangi lekat-lekat matanya, kucium lembut bibirnya, Yanti memejamkan matanya. Dibalasnya ciumanku, kujulurkan lidahku, Yanti membalasnya, kuhisap, Yanti membalasnya. Pikiranku benar-benar sudah dikuasai gairah memuncak, kuciumi lehernya, kujilati sepuasku.
“Aaacchh.., Rioo..” desahan Yanti membuatku tambah bernafsu.
Aku berdiri di samping tempat tidur sambil tidak lepas memandang wajahnya sedikitpun.

Kubuka bajuku, handuk, terakhir celana dalamku, sengaja tidak kupadamkan lampu, penisku langsung “tegak-melompat” keluar “sarangnya”. Kulihat Yanti terkesima, kuhampiri dia, kuraih tangannya, kuletakkan di atas penisku, kusuruh dia melakukan gerakan “mengocok”.
“Aaahh nikmat sekali..” desahku.

15 menit Yanti melakukan itu, kulepaskan tangannya dari penisku, kutarik wajahnya, kuarahkan ke penisku. Mula-mula Yanti menolak, dengan sedikit paksaan mau juga dia. Masuklah penisku dalam mulut mungilnya. Digerakkannya maju-mundur berulang kali sampai basah kuyup penisku oleh ludahnya, kurasakan spermaku mau keluar, kutarik rambutnya.
“Stop Yanti..!” kataku.

Kini kubaringkan dia, kutelanjangi Yanti sampai sehelai benang pun tidak ada lagi di tubuhnya. Kupandangi tubuhnya, tampak di perut kirinya ada tahi lalat cukup besar. Kucium bibirnya, dagunya, turun ke lehernya, dadanya, perutnya, kuhisap pusar dan tahi lalatnya, Yanti menggelinjang geli. Kuteruskan ke selangkangannya, kumasukkan jari tengahku sambil aku terus mencium selangkangannya.

“Aaacchh Riioo niikkmaatnyaa sayaangg..” desah Yanti.
Yanti mengangkat pantatnya setinggi-tingginya, kurasakan basah vaginanya. Yanti telah orgasme rupanya. Kini aku menaiki tubuh Yanti, penisku pun sudah amat berdenyut mendambakan pelampiasan pula. Kuarahkan penisku ke vagina Yanti, kuturunkan perlahan pinggulku, tidak sedetikpun kulepaskan pandanganku dari mata Yanti. Kulihat Yanti menggigit bibirnya.
“Sakiitt Riioo..” desahnya.
Kuhentikan sejenak, lalu kuteruskan lagi, Yanti mendesis lagi. Kulihat butiran air mata di sisi matanya.

“Sakit saayyaangg..?” tanyaku.
“Iyyaa Riioo, punya kamu besar sekali..” jawab Yanti meracau.
“Mana besar sama punya Joe..?” tanyaku.
“Besar punya kamu Rioo.. sakit saayyaangghh, perriihh, tapii niikmaatthh sekalii..” rintih Yanti.
Akhirnya masuk semua penisku ke dalam vaginanya. Kutarik maju mundur, akibatnya sungguh luar biasa, Yanti menggeram, kedua kakinya menjepit pinggangku sekuatnya, giginya ditanamkan di bahuku, kurasakan pedih. Waahh berdarah nih.. Yanti orgasme kedua kalinya.

Kini kuganti posisiku, Yanti kusuruh menungging, dan dengan nafsu memuncak kutusukkan penisku ke anusnya, kurasakan otot “spchincter ani”-nya mencengkram erat penisku. Kugerakkan masuk-keluar penisku, kugenggam payudaranya, Yanti menggenggam tepi tempat tidur.
“Riioo.. saayyaanngghh.. ciintaa.. eennaakkhh.. Riioo.. Rioo.. nikmaatthh sayaangghh.. terruusshh cinntaa..” erang Yanti terus menerus.
Aku benar-benar nikmat, “Yaanntii kuhamili kamuu.. badan kamuu enak bangeetthh..” erangku juga.

10 menit kemudian aku tidak tahan lagi, penisku berdenyut kuat, kucengkram erat pinggul Yanti, kusemburkan sperma hangatku dalam vagina Yanti.
“Aaacchh nikmat sekali..” desahku di telinganya.
Kami pun terkulai lemas.

Setelah itu beberapa kali kami mengulanginya di hotel “xx” dekat kantor Yanti. Sekarang Yanti telah menikah dengan Joe. Kami masih berhubungan lewat telepon. Semoga kamu baca kisah kita ini Yanti. Rio sayang kamu selalu.

TAMAT

Posted in Indo Naked, snsdlover | Tagged , , , , , , | Comments Off on Iryanti, Gadis Warnet

Ayahku Tercinta 01

Foto ABG Nakal Anak Sekolah Pengen DI Belai (1).Mekper cerita hot_WM

Foto ABG Ngentot Basah-Basahan (1).Mekper cerita ml_WM

Foto ABG Pinoy Pamer Toket dan Berpose Bugil (8).Cherry Belle ngentot_WM

Foto ABG Toket Gede Memek Bersih (5).Chiaki Kuriyama fake_WM

Foto Aksi Gila Janda Ngocok Meki (2).Melania Urbina naked_WM

Foto Amoy Bugil Pamer Toket dan Memek Basah (2).Chinami Suzuki naked_WM

Foto Amoy Cantik Bugil Lagi ML (11).Chloë Grace Moretz nude_WM

Foto Amoy Ngangkang Pamer CD Merah (16).Choi Kang Hee fake_WM

Foto Amoy Ngentot Berjembut Lebat (8).Christie Julia naked_WM

Foto Anal Cewek Bule Cantik dan Montok Terbaru (11).Christina Milian fake_WM

Kumpulan Cerita Sex, cewe bugil – cabe cabean pamer toket gede abg semok ngentot abg jembut lebat perawan sma bugil video dosen ngentot foto memek tante zia telanjang abg ngangkang bugil

Pertama kali aku ingin mengenalkan diriku sebagai Caroline. Aku sekarang ingin menceritakan pengalaman pertamaku sehingga aku menjadi menyukai berhubungan seks dengan laki-laki yang lebih tua 10-15 tahun dariku. Aku adalah seorang wanita yang berusia 20 tahun di tahun 2000 ini. Ibuku adalah asli orang Indonesia karena dia dilahirkan di Bandung sedangkan ayahku adalah pendatang dari Shanghai sehingga aku bisa berkomunikasi dalam banyak bahasa dan logat termasuk bahasa Mandarin dan bahasa Sunda. Aku boleh berbangga karena banyak sekali cowok-cowok di kampusku yang mengejarku bahkan ada yang terang-terangan ingin menjadikanku sebagai pacar mereka mungkin disebabkan karena wajahku yang seperti campuran Cecilia Cheung (mesti nonton FLY TO POLARIS jika ingin tahu siapa dia) dan almarhum Nike Ardilla, tetapi aku menolak mereka karena aku ingin menuruti semua perintah orang tuaku untuk memilih kuliah daripada pacaran.

Di antara ayah dan ibuku, aku sangat mengagumi ayahku karena dia termasuk orang yang gigih bekerja dari situasi yang tidak memiliki apa-apa menjadi seseorang yang bisa dianggap cukup kaya dan mewah. Tentu saja, aku sebagai anaknya bahagia dan salut kepada jiwa pantang menyerah ayahku itu. Hal ini membuatku menjadi semakin akrab dan menumbuhkan keinginan untuk mencari kekasih seperti ayahku. Mungkin hal ini pula yang membuatku tetap single karena tidak ada laki-laki di kampusku yang seperti dia. Sejujurnya rata-rata laki-laki di kampusku di Universitas **** (edited) yang aku kenal tidak mempunyai prinsip pemikiran masa depan bahkan ada beberapa dari mereka lebih menyukai kenikmatan Narkoba yang membuatku menjadi benci dengan mereka.

Pada suatu hari menjelang hari raya, ibuku pergi bersama temannya untuk pergi keluar negeri dan aku hanya di rumah bersama ayahku (oh ya, sebelum aku lupa, kami sekeluarga memiliki agama yang berbeda dan aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa terjadi). Sebelum pergi ke luar negeri, ibuku menyuruh ayahku untuk menjagaku dan dirinya sendiri.

Setelah kepergian ibuku ke luar negeri bersama temannya, ayahku menjadi lebih sering mengurung diri dan dia jarang sekali keluar rumah sampai suatu ketika, aku iseng-iseng mengintip kegiatannya sehingga terjadi hal yang indah tersebut. Suatu sore, aku curiga sama ayahku karena selama seharian dia tidak keluar dari kamarnya dan aku takut terjadi apa-apa dengannya, sehingga aku memutuskan untuk mengintip dari pintu kamarnya. Ketika aku membuka pintu itu sedikit demi sedikit, aku sempat terbengong ketika mendengar dan melihat ayahku sedang menonton Blue Film dengan posisi setengah telanjang. Kulihat dengan jelas bahwa ayahku sedang mengocok dengan penuh ritme kemaluannya yang tidak begitu terlihat olehku karena dia sedang membelakangiku.

Desahan ayahku yang bercampur oleh suara TV membuatku mengalami perasaan gelisah (mungkin aku menjadi terangsang barangkali ya) sehingga pintu menjadi terbuka lebar dan ayahku cepat-cepat menghentikan aksinya dan mematikan TV. Dia sempat marah karena aku mengganggu aktifitasnya. Aku merasa bersalah dan aku menanyakan apa yang bisa kuperbuat untuknya. Akhirnya dia menjawab bahwa aku mesti dihukum dengan menuruti kemauannya dan aku tentu saja menolaknya karena bagaimanapun dia adalah ayah kandungku. Melihat penolakanku, ayahku tampaknya kesal dan hanya mencuekiku saja dan kembali menonton film itu tanpa peduli bahwa anaknya satu-satunya berada di dekatnya.

Selama film itu berlangsung, aku hanya diam saja dan aku tampaknya sudah terbuai dengan film itu karena aku sempat menelan ludahku berkali-kali dan aku merasakan celana dalamku sudah basah oleh cairan kewanitaanku apalagi disaat aku kembali melihat ayahku mengocok kemaluannya yang semakin lama semakin besar. Entah setan dari mana, aku tiba-tiba saja memeluknya dari samping dan menempelkan payudaraku di tangannya. Ayahku berhenti dan memandangku, dia tidak menolak, tidak berkomentar apapun. Dari dekat wajahnya sudah tampak guratan-guratan kulit tuanya, dihiasi kumis yang mulai tampak uban satu dua. Tampaknya beliau salah tingkah harus bersikap apa, aku kan anaknya.

Beliau tampak memandangiku dan perlahan-lahan menggerakkan tangannya menjamah payudaraku dan meremasnya perlahan sekali. Aku jadi agak risih, meskipun tidak menolak juga. Dia menangkupkan telapak tangannya di gunung itu dan menekannya sambil meremasnya. Caranya agak lain tetapi entah kenapa aku merasakan sesuatu yang lain yang mulai mengaliri tubuhku.

Untuk orang seumur ayahku kemaluannya mungkin terlihat masih kokoh. Panjangnya mungkin sekitar 17 atau 18 cm, agak tebal kulitnya, terus ada urat besar di sisi kiri dan kanan yang terlihat seperti ada cacing di dalam kulitnya. Kepala batangnya tampak kompak (ini istilahku!), penuh dan agak berkerut-kerut. Garis lubangnya tampak seperti luka irisan di kepala kemaluannya. Aku memegangnya perlahan, terasa ada sedikit kedutan terutama di bagian uratnya. Lingkaran genggamanku tampak tak tersisa memenuhi lingkaran batangnya. Ternyata beliau memang hebat meski sudah berumur. Aku mulai menggerakkan tanganku mengocok batangnya itu, saat itu yang terpikir segeralah beliau ejakulasi terus menyelesaikan urusan lainnya.

Eh tidak tahunya setelah beberapa lama, ayahku bangkit dan mendorongku perlahan-lahan sehingga berbaring di ranjang. Beliau bangkit dan mengunci pintu. Aduh jangan.. jangan.. Entah terpengaruh apa, aku sudah tidak ingat lagi batasnya. Ayahku perlahan-lahan menggerayangi tubuhku dimulai dari payudaraku. Beliau menarik kaos ketat dan bra-ku ke atas sehingga berada di atas gundukan payudaraku yang menyebabkan payudaraku terlepas dan tanpa perlindungan. Jemarinya mulai meremas-remas payudaraku dan memilin-milin putingnya. Saat itu separuh tubuhku masih belum total terhanyut tetapi ternyata ayahku jagoan juga dan mungkin karena alasan ini ibuku menyayanginya. Dalam waktu mungkin kurang dari 10 menit aku mulai mengeluarkan suara mendesis yang tak bisa kutahan. Kulihat dia tersenyum. Dan menghentikan aktivitasnya. Tiba-tiba aku merasakan sabuk celanaku dibuka. Belum selesai berpikir aku merasakan hawa dingin AC di kulit pahaku yang artinya celanaku telah lepas. Beberapa saat kemudian aku merasakan tarikan lembut di pahaku yang berarti celana dalamku pun telah dilepas. Aku masih terhanyut oleh rasa nikmat dari ayahku di payudaraku tadi dan tak tahu harus bagaimana.

Tiba-tiba aku merasakan sepasang jemari menjembeng (membuka ke kiri dan ke kanan) bibir-bibir kemaluanku. Dan yang dahsyat lagi aku merasakan sebuah benda tumpul dari daging mendesak di tengah-tengah bentangan bibir itu. Aku mulai sedikit panik karena tidak mengira akan sejauh ini tetapi tentu saja aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku sendiri yang memulainya tadi dan juga aku sangat mengagumi ayahku dan sangat menyayanginya. Sementara itu batang kemaluan ayah kandungku mulai mendesak masuk dengan mantap. Untuk orang seusia dia, boleh juga. Aku mulai merasakan perasaan penuh di kemaluanku dan semakin penuh seiring dengan semakin dalamnya batang itu masuk ke dalam liangnya. Sedikit suara lenguhan kudengarkan dari beliau ketika seluruh batang itu amblas masuk.

Aku sendiri tidak mengira batang sebesar dan sepanjang tadi bisa masuk seluruhnya. Rasanya seperti terganjal dan untuk menggerakkan kaki saja rasanya agak susah. Sesaat keherananku yang sama muncul ketika melihat film biru dimana adegannya seorang cewek berada di atas cowoknya dan bisa bergerak naik turun dengan cepat. Padahal ketika seluruh batang kemaluan itu masuk, bergerak sedikit saja terasa aneh bagiku. Beberapa saat kemudian ayahku mulai menarik perlahan batang kemaluannya dan aku merasakan gesekan yang terasa agak geli di dinding lubangku. Sedikit demi sedikit aku mulai merasa nyaman. Beliau terus bergerak dan sayang belum sampai 10 gerakan tusuk dan tarik, beliau menarik batang kemaluannya dan mengocoknya sendiri dan mengarahkannya ke meja yang tidak jauh dari ranjangnya. Sementara aku sendiri masih dalam kondisi menggantung, ketika semprotan-semprotan ganas itu terlontar seperti semprotan pemadam kebakaran. Ayahku tampak melenguh-lenguh tertahan ketika dari ujung kemaluannya menyemprot-nyemprotkan tak kurang dari 8 kali semprotan cairan putih kental, padahal tangannya hanya bergerak mengocok sekali untuk dua kali semprotan. Tampak dahsyat sekali yang dialami ayahku. Sementara aku sendiri betul-betul masih menggantung, posisiku bahkan belum berubah, mengangkang di ranjang, sehingga dari sebelah meja kerja ayahku pastilah selangkanganku tampak terlihat jelas.

Ayahku duduk di ranjang di depanku sambil memegangi kepala kemaluannya yang tampak memerah. Diliriknya selangkanganku terus di rebahkannya dirinya di sana. Beberapa saat berlalu. Tiba-tiba di tengah kegamanganku, kesadaran moralku muncul. Aku bangkit dan mengambil pakaianku, memakainya cepat-cepat, merapikan rambut, terus duduk menunduk. Dan berucap, “Aku minta maaf Pi, aku nggak sengaja!” Ayahku hanya tersenyum kepadaku dan langsung menjawab ucapanku tadi, “Bantuin aku membersihkan ini, ya!” dia mengambil kain dan tissue dan mulai membersihkan sisa-sisa di atas meja dan sofa tadi. Aku mengambil tissue dan mulai ikut membersihkan, sekali aku memandanginya dan tanpa sadar beliau memandang balik dan kami saling berpandangan beberapa lama.

Setelah bersih aku berniat keluar kamarnya untuk mandi. Entah kenapa, dia membukakan pintu, dan sebelumnya dia membisikkan kata-kata ini. “Terima kasih anakku sayang, maaf Papi terlalu cepat, mungkin habis kamu mandi aku bisa memperbaikinya, kamu mandi dulu gih dan Papi juga mau mandi nih.” Hahh.. habis mandi? Ya.. ampun..! Masih dengan perasaan menggantung, aku berjalan menyusuri ruang tengah itu dan menuruni tangga untuk menuju ke kamar mandi untuk mandi. Setiap gerak langkah kakiku menggesekkan perasaan geli dan entah apa yang membuatku kadang-kadang menggelinjang sendiri. Mungkin karena sebenarnya aku pun menyimpan keinginan itu di bawah sadar sehingga -sama seperti ayahku- ketika ada penyaluran yang dibutuhkan adalah penyaluran total.

Bersambung ke bagian 02

Posted in Indo Naked, snsdlover | Tagged , , , , , | Comments Off on Ayahku Tercinta 01